“TRI DEWA BAWA”

Oleh : Jeromangku _Sudiada@Yahoo.com

Banyak yang telah masuk kedalam Ja-Pri kami, yang menanyakan :

1. Sebenarnya apasih Kesitimewaan wanita dalam Hindu
2. Apa Fungsi Wanita dalam Hindu
3. Bagaimana menyikapi wanita menurut Hindu – tentang PSK
4. Entah apalagi maaf kami pelupa.

Sebelum kami menyampaikan beberapa Sloka yang kami ambil dari Manawa Dharma sastra. Baiklah sedikit kami bukakan wawasan dalam Hindu, ada yang disebut dengan ”TRI DEWA BAWA”

TRI = tiga. DEWA= diambilkan dari sifatnya pengasih dan penyayang dan BAWA = diambilkan dari fungsionalnya yang menyebabkan mereka menjadi dihormati, atas fungsinya itu menjadikan mereka berwibawa, ingat dalam management Hindu ada yang disebutkan denga rumus S = F X K

Sikap = akan ditentukan oleh fungsi dan kebutuhan, dalam bahasa balinya disebut :

1. Etika ngelingang linggih
2. Busana nyihnayang swegina.

Tria Dewa Bawa terdiri dari.

1. Metri Dewa Bawa = Peran seorang Ibu.
2. Pitri Dewa Bawa = Peran seorang Bapak dalam keluarga
3. Acarya Dewa Bawa = Peran seorang Guru dalam keluarga

Sekarang kami bahas adalah METRI DEWA BAWA.
Dalam keluarga sejahtera fungsi seorang Ibu / wanita adalah sangat
Dominan, wanitalah yang sangat menentukan berhasil / gagal, sukses tidaknya sebuah rumahtangga.

Wanita yang menjadikan dirinya Guru reka terhormat, dihormati termashyur, “LUH LINUWIH” / Luh Luwih meutama
demikian pula sebaliknya yang menjadikan dirinya, masuk dalam lembah kenistaan dicampakan, sampah masyarakat “LUH LUWU”

Dan satu lagi menjadikan sumber pemborosan bila tidak bisa mengendalikan Ekonomi keluarga menjadilah mereka “LUH LUWAH” menjadikan beban keluarga, sumber pemborosan.

BIBIT & BOBOT

Seorang istri pembawa benih dari Preti sentana ( Kama Bang Suklawanita dan Kama Petak sebagai tunas dari seorang Ayah)

MENGANDUNG

Seorang Istri pula yang mewadahinya selama sembilan bulan dalam kandungan, yang menyebabkan wajahnya sudah tak keruan selama kehamilan.

MENANTI KELAHIRAN

Melahirkan, juga adalh merupakan perjuangan antara hidup dan matinya seorang Ibu demi sang kelahiran sang bayi

GURU RUPAKA / REKA

Setelah bayi lahir seorang Ibu pulalah yang menjadikan Guru Pertama dari kehidupan sang bayi, seblum mereka mendapatkan pendidikan informal dan kemudian diteruskan ke pendidikan Formal.

Ingat Pada jaman kejayaan Hindu mencapai puncak keemasanya Brahmana pada masa pemrintahan Candra Gupta abad ke XIV.

Justru disitu pulalah Presentase umat yg paling banyak Pindah agama 90 % dari total semuanya orang pindah agama lain adalah pada abad ini, kenapa……….?

Jawabannya adalah Agama hanya dimiliki oleh golongan tertentu saja kemudian agaman didominasi oleh Laki laki saja ( sampai sekarangpun di India masih ada menerapkan seorang Ibu tidak boleh melantunkan Gayatri Mantram )

Nah Kunci Utama sang Ibu sebagai Guru Reka / pertama tidak tersenggol sama sekali oleh pendidikan agama.

Nah kalau sudah begitu jawabannya sudah ada pada anda semuanya

BEBAN YANG PALING BERAT.

Dari kesimpulan diatas satu satunya bean yang terberat yang melebihi ibu pertiwi adalah “METRI DEWA BAWA” alias ibu kandung.

Selanjutnya silahkan dibaca sloka sloka dibawah ini.

MD III.55: Pitrbhir bhatrbhis, caitah patibhir devaraistatha, pujya bhusayita vyasca, bahu kalyanmipsubhih.

Istri harus dihormati dan disayangi oleh mertua, ipar, saudara, suami dan anak-anak bila mereka menghendaki kesejahteraan dirinya. Ucapan sorga ada di tangan wanita bukanlah suatu slogan kosong, karena ditulis dalam

MD.III.56: Yatra naryastu pujyante, ramante tatra devatah, yatraitastu na pujyante, sarvastatraphalah kriyah.

Di mana wanita dihormati, di sanalah pada Dewa-Dewa merasa senang, tetapi di mana mereka tidak dihormati, tidak ada upacara suci apapun yang akan berpahala.

Lebih tegas lagi dalam sloka berikutnya:

MD.III. 57 : Socanti jamayo yatra, vinasyatyacu tatkulam, na socanti tu yatraita, vardhate taddhi sarvada.

Di mana wanita hidup dalam kesedihan, keluarga itu akan cepat hancur, tetapi di mana wanita tidak menderita, keluarga itu akan selalu bahagia.

Dan sloka MD.III. 58: Jamayo yani gehani, capantya patri pujitah, tani krtyahataneva, vinasyanti samantarah.

Rumah di mana wanitanya tidak dihormati sewajarnya, mengucapkan kata-kata kutukan, keluarga itu akan hancur seluruhnya seolah-olah dihancurkan oleh kekuatan gaib

Published in: on 9 July 2010 at 11:02 am  Comments (1)  
Tags:

The URI to TrackBack this entry is: https://taksu.wordpress.com/2010/07/09/%e2%80%9ctri-dewa-bawa%e2%80%9d/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentLeave a comment

  1. Maaf, tulisannya tidak terbaca dengan theme berlatar gelap …


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: