Bermacam-macam jenis Dharana

Siva Samhita
Bab V

43
yogi padmasane tisthet kanthakupe yada smaran,
jihvam krtva talu mule ksutpipasa nivartate.

Let the Yogi seat himself in the padmasana, and fix his attention on the cavity of the throat, let him place his tongue at the base of the palate; by this he will extinguish hunger and thirst.

Cobalah yogi duduk sendiri dalam sikap padmasana dan memusatkan perhatiannya pada rongga kerongkongan, cobalah letakkan lidahnya pada dasar langit-langit; dengan cara ini ia akan memadamkan rasa lapar dan haus.

44
kantha kupadadhah sthane kurma najhasti sobhana,
tasmin yogi dattva cittasthair yam labhed bhrsam.

Below the cavity of the throat, there is a beautiful nadi (vessel) called kurma; when the Yogi fixes his
attention on it, he acquires great concentration of the thinking principle (chitta).

Dibawah rongga kerongkongan ada nadi (pembuluh) indah yang disebut kurma, bila yogi memusatkan perhatiannya padanya ia mendapat konsentrasi pada prinsip pemikiran (citta).

45
sirah kapale rudraksam vivaram cintayed yada,
tada jyotih prakasah syad vidyut punjasama prabhah,
etas cintana matren papanam samksayo bhavet,
duracaro pi puruso labhate paramam padam.

When the Yogi constantly thinks that he has got a third eye – the eye of Shiva – in the middle of his
forehead, he then perceives a fire brilliant like lightening. By contemplating on this light, all sins are
destroyed, and even the most wicked person obtains the highest end.

Bila yogi secara konstan berpikir bahwa ia telah mendapatkan mata ke-tiga – mata siva – ditengah-tengah dahinya, maka ia memperoleh api cemerlang seperti kilat. dengan merenungkan pada sinar ini, segala dosa akan menghancurkan bahkan seseorang yang sangat kejam pun akan memperoleh tujuan tertinggi.

46
aharnisam yada cintam tat karoti vicaksanah,
siddhanam darsanam tasya bhasanan ca bhaved dhruvam.

If the experienced Yogi thinks of this light day and night, he sees the Siddhas (adepts1), and can certainly converse with them.

Bila yogi yang berpengalaman memikirkan sinar ini siang dan malam, ia menyaksikan para siddha (mahir) dan tetap dapat bergaul dengan mereka.

47
tisthan gacchan svayan bhunjan dhyayec chunya maharnisam,
tad akasamayo yogi cid akase viliyate.

He who contemplates on sunya (void or vacuum or space), while walking or standing, dreaming or waking, becomes altogether ethereal, and is absorbed in the chid-akasa.

Ia yang merenungkan pada sunya (kosong atau hampa atau ruang), sementara berjalan atau berdiri, bermimpi atau terjaga, bersama-sama menjadi akasa dan terserap dalam cidakasa.

48
etaj jnanam sada karyam yogina siddhim icchata,
nir antara krtabhyasan mama tulyo bhaved dhruvam.
etaj jnana balad yogi sarvesam vallabho bhavet.

The Yogi, desirous of success, should always obtain this knowledge; by habitual exercise he becomes equal to me; through the force of this knowledge, he becomes the beloved of all.

Yogi yang menginginkan keberhasilan hendaknya selalu mendapatkan pengetahuan ini; dengan latihan kebiasaan, ia menjadi sebanding dengan Aku; berkat daya pengetahuan ini, ia menjadi kekasih semuanya.

49
sarvan bhutan jayam krtva nirasira parigraha,
nasagre drsyate yena padmasana gatena vai.
manaso maranam khecaratvam prasiddhyati.

Having conquered all elements, and being void of all hopes and worldly connections, when the Yogi sitting in the padmasana, fixes his gaze on the tip of the nose, his mind becomes dead and he obtains the spiritual power called Khechari.

Setelah menaklukkan segala unsur dan terbebas dari segala keinginan dan hubungan duniawi, bila yogi duduk dalam sikap padmasana memusatkan pandangannya pada ujung hidung, pikirannya menjadi mati dan ia memperoleh tenaga spiritual yang disebut khecari.

50
jyotih pasyati yogindrah suddham suddnacalopamam,
tatrabhyasa balenaiva svayam tad raksako bhavet.

The great Yogi beholds light, pure as holy mountain (Kailas), and through the force of his exercise in it, he becomes the lord and guardian of the light.

Yogi yang hebat memandang sinar, kemurnian sebagai gunung suci (kailasa) dan berkat daya latihannya pada itu menjadi penguasa dan penjaga sinar.

51
uttanasayane bhumau suptva dhyayan nirantaram,
sadyah srama vinasaya yogi vicaksanah,
sirah pascattu bhagasya dhyane mrtyunjayo bhavet.
bhrumandhye drstimatren hy aparah parikirtitah.

Stretching himself on the ground, let him contemplate on this light; by so doing all his weariness and
fatigue are destroyed. By contemplating on the back part of his head, he becomes the conqueror of death. (We have described before the effect of fixing one’s attention on the space between the two eyebrows, so it need not be enumerated here).

Dengan menjulurkan dirinya di tanah, cobalah ia merenungkan pada sinar, dengan berbuat demikian segala kelelahan dan kecapaiannya terhancurkan. dengan merenungkan bagian belakang kepalanya ia menjadi penakluk kematian. (kami telah menggabarkan sebelumnya akibat dari pemusatan perhatian seseorang pada ruang antara dua alis mata, sehingga tak perlu dijelaskan disini).

52
catur vidhasya cannasya rasastre dha vibhajyate,
tatra saratamo limga dehasya pariposakah,
sapta dhatumayam pindameti pusvati madhyagah.

Of the four kinds of food (i.e., that which is chewed, that which is sucked, that which is licked and that which is drunk), which a man takes, the chyle fluid is converted into three parts. The best part (or the finest extract of food) goes to nourish the linga sharira or subtle body (the seat of force). The second or middle part goes to nourish this gross body composed of seven dhatus (humours).

Karena empat macam makanan (yakni yang dikunyah, yang dihisap, yang dijilat dan yang diminum), yang dipakai manusia, cairan getah makanan diubah menjadi tiga bagian. bagian yang terbaik (atau sari makanan terbaik) memberi makan linga sarira atau badan halus (kedudukan tenaga). yang kedua atau bagian tengah, memberi makan badan besar yang tersusun dari tujuh dhatu (suasana batin).

53
yati vismutrarupena trtiyah saptato bahih,
asyabhagadvayam nadyah proktastah sakala api,
posayanti vapur vayum apad atalam astakam.

The third or the most inferior part goes out of the body in the shape of excrement and urine. The first two essences of food are found in the nadis, and being carried by them, they nourish the body from head to foot.

Yang ketiga atau bagian yang paling rendah, keluar dari badan dalam bentuk kotoran dan air kencing. kedua sari makanan yang pertama didapatkan nadi dan diangkut olehnya dan memberi makan pada badan dari kepala sampai kaki.

54
nadi mirabhih sarvabhir vayuh sancarate yada,
tadaivannaraso dehe samyeneha pravartate.

When the vayu moves through all the nadis, then, owing to this vayu, the fluids of the body get
extraordinary force and energy.

Bila vayu bergerak melalui semua nadi, maka akibat dari vayu (oxygen) cairan badan memperoleh tambahan daya dan tenaga seperti biasanya.

55
catur dasanam tatreha vyapare mukhya bhagatah,
ta anugratvahinas ca pranasancara nadikah.

The most important of these nadis are fourteen, distributed in different parts of the body and performing various functions. They are either weak or strong, and the prana flows through them.

Yang terpenting dari nadi-nadi ini ada 14, yang menyebar dibagian-bagian badan yang berbeda dan melaksanakan bermacam-macam fungsi. mereka ada yang lemah maupun yang kuat dan prana (daya hidup vital) mengalir melalui mereka.

Published in: on 29 July 2009 at 10:22 am  Leave a Comment  
Tags: ,

The URI to TrackBack this entry is: https://taksu.wordpress.com/2009/07/29/bermacam-macam-jenis-dharana/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: