Jnana Kanda

Siva Samhita
Bab I

32
karma kandasya mahatmyam jnatva yogi tyajet sudhih,
punya papa dvayam tyaktva jnana kande pravartate

The wise Yogi, having realized the truth of karmakanda (works), should renounce them; and having left
both virtue and vice, he must engage in jnanakanda (knowledge).

Yogi bijaksana yang telah merealisir kebenaran karma kanda (kerja) harus meninggalkannya dan setelah meninggalkan kebajikan maupun kejahatan ia harus sibuk dalam melakukan jnana kanda (pengetahuan)

33
atma va ‘retu drastavyah srotavyesyadi yac chrutih,
sa sevya tat bhayatnena muktida hetu dayini

The Vedic texts, – “The spirit ought to be seen,” – “About it one must hear”, &c., are the real saviors and givers of true knowledge. They must be studied with great care.

Naskah Veda menyatakan: “Jiva (roh) sepatutnya disaksikan.” “Tentang itu seseorang harus mendengarnya,” dan seterusnya, merupakan penyelamat sejati dan pemberi pengetahuan sejati, yang harus dipelajari dengan seksama

34
duritesu ca punyesu yo dhirvrttim pracodayat,
so ‘ham pravartate matto jagat sarvam caracaram.
sarvam ca drsaye mattah sarvam ca mayi liyate,
na tad bhinno ‘ham asmiha madhinno na tu kimcana

That Intelligence, which incites the functions into the paths of virtue or vice, am I. All this universe,
moveable and immovable, is from me; all things are preserved by me; all are absorbed into me (at the time of pralaya; because there exists nothing but the spirit and I am that spirit – there exists nothing else.

Bahwa kecerdasan yang merangsang fungsi-fungsi menuju jalan kebajikan dan kejahatan, adalah Aku. Seluruh alam semesta yang dapat bergerak maupun yang tak dapat bergerak, berasal dari-Ku; segala benda dipelihara oleh-Ku; semuanya terserap kedalam-Ku (ketika pralaya); karena tak ada yang lainnya kecuali jiva dan Aku adalah jiva itu, – tak ada keberadaan lain.

35
jala purnesva samkhyesu saravesu yatha bhavet,
ekasya bhatya samkhya tvam tadvedo ‘tra na drsyate.
upadhisu saravesu ya samkhya vartate para,
sa samkhya bhavati yatha ravau catmani tat tatha

As in innumerable cups full of water, many reflections of the sun are seen, but the substance is the same; similarly individuals, like cups are innumerable, but the vivifying spirit, like the sun, is one.

Ibarat beberapa buah pasu yang penuh air, banyak pantulan matahari terlihat tetapi bendanya sama; begitu pula pribadi-pribadi, seperti pasu-pasu tadi yang tak terhitung banyaknya tetapi roh penghidupnya seperti halnya matahari adalah Satu.

36
yathaikah kalpakah svapne nanavidhita yesyate,
jagarepi tathapy ekas tatha iva bahudha jagat

As in a dream the one soul creates many objects by mere willing; but on awaking everything vanishes but the one soul; so is this universe.

Seperti dalam sebuah impian, jiwa yang satu itu menciptakan banyak benda-benda hanya dengan keinginan; tetapi ketika bangun (sadar), semuanya lenyap kecuali jiwa yang Satu tadi; demikian pula di alam semesta ini.

37
sarpa buddhir yatha rajjau suktau va rajata bhramah,
tadvad evam idam visvam vivrtam param atmani

As through illusion a rope appears like a snake, or a pearl-shell like silver; similarly, all this universe is
superimposed in the Paramatma (the Universal Spirit).

Seperti sebuah tali yang tampak seperti seekor ular melalui khayalan atau kerang mutiara seperti perak; demikian juga seluruh alam semesta ini ditumpangkan pada paramatma (jiva semesta)

38
rajju jnanady atha sarpo mithya rupo nivartate,
atma jnanat tatha yati mithya bhutam idam jagat

As, when the knowledge of the rope is obtained, the erroneous notion of its being a snake does not remain; so, by the arising of the knowledge of self, vanishes this universe based on illusion.

Karena, bila pengetahuan tentang tali didapatkan maka pengertian salah yang menjadikannya seekor ular tak ada lagi; sehingga, dengan munculnya pengetahuan tentang sang diri, lenyaplah alam semesta yang berdasarkan pada khayalan tersebut.

39
raupya bhrantir iyam yati sukti jnanad yatha khalu,
jagad bhrantir iyam yati catma jnanat sada tatha

As, when the knowledge of the mother-of-pearl is obtained, the erroneous notion of its being silver does not remain; so, through the knowledge of spirit, the world always appears a delusion.

Karena, bila pengetahuan tentang induk mutiara didapatkan, maka pengertian salah tentang keberadaannya sebagai perak tidak ada lagi; sehingga, melalui pengetahuan tentang roh, dunia selalu tampak sebagai sebuah khayalan.

Published in: on 24 July 2009 at 7:13 pm  Leave a Comment  
Tags:

The URI to TrackBack this entry is: https://taksu.wordpress.com/2009/07/24/jnana-kanda/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: