Upacara

Sang Suyasa:
Gurunda, telah cukup luas apa yang telah Gurunda uraikan mengenai filsafat dan susila agama Hindu. Bolehkah hamba mengetahui sekedarnya perihal upacara-upacara yang ada dalam agama kita?

Rsi Dharmakerti:
Tentu saja boleh, anakku, dan memang malah anaknda harus mengetahuinya sebagai seorang penganut dan pencinta agama.

Hanya di sini Guru tidak akan menguraikan pelaksanaan upacara-upacara itu secara terperinci, tetapi dasar-dasarnya yang akan Guru uraikan. Nah dengarlah!


Dari sudut filsafatnya, upacara ialah cara-cara melakukan hubungan antara atman dengan Parama Atman, antara manusia dengan Hyang Widhi serta semua manifestasiNya, dengan jalan yadnya untuk mencapai kesucian jiwa. Untuk upacara-upcara ini dipakailah upakara, sebagai alat penolong untuk memudahkan manusia menghubungkan dirinya dengan Hyang Widhi dalam bentuk yang nyata.

Ketahuilah anakku bahwa dasar dari segala kekotoran pikiran adalah karena kegelapan akan keadaan jiwa yang sebenarnya (awidya) yaitu tidak tahu akan keadaan dasar kesucian dari Atman. Tiap-tiap usaha untuk mengurangi kegelapan ini tentunya menyucikan pikiran. Pemusatan bhakti kepada Hyang Widhi dan kesadaran akan dasar kesuciannya atman dapat mengurangi kegelapan itu.

Oleh karena itulah upakara ini merupakan alat penyucian jiwa. Simbol-simbol prateka atau pratima yang menyimbulkan manifestasi Hyang Widhi dalam wujud yang kita bayangkan sendiri membawa pikiran kita pada persatuan dengan Hyang Widhi hal mana adalah merupakan penyucian yang utama. Oleh karena itu memang sewajarnyalah simbol-simbol itu dikeramatkan. Bahwa simbol-simbol itu adalah penolong yang besar ke arah penyatuan pikiran kepada Hyang Widhi, dapat diumpamakan sebagai berikut: misalnya sebuah peta Indonesia. Peta itu sendiri bukanlah Indonesia. Demikian pula simbol-simbol atau pratima-pratima itu bukanlah Hyang Widhi tetapi ia dapat menolong menciptakan persatuan jiwa dengan Hyang Widhi dalam suasana kesucian.

Di samping simbol-simbol tadi anakku, tirtha (air suci) adalah pula alat untuk membersihkan jiwa. Sedangkan api pedupaan merupakan saksi serta mengantar persembahan kita. Dan bunga atau canang sari serta banten-banten lainnya adalah simbol dari sarinya bumi (perwujudan dari gandha) yang kita persembahkan kehadapan Hyang Widhi untuk menyampaikan rasa kecintaan dan kebahagiaan hati serta terima kasih yang tulus dan suci.

Dengan singkat anakku, upakara ini adalah alat penolong untuk menyucikan badan dan pikiran dalam menyelaraskan hubungan dengan Hyang Widhi.

Segala upakara-upakara ini dipakai pada waktu diadakan upacara di samping alat-alat lain yang fungsinya kadang-kadang sebagai hiasan atau cetusan rasa seni.

Adapun upacara keagamaan yang terbesar dalam agama Hindu berjumlah lima golongan yang disebut dengan Panca Yadnya, yaitu:
a. Dewa Yadnya,
b. Pitra Yadnya,
c. Rsi Yadnya,
d. Bhuta Yadnya, dan
e. Manusa Yadnya

Sang Suyasa:
Maaf Gurunda, apakah yadnya-yadnya ini maksudnya sama dengan yang sudah Gurunda terangkan di muka?

Rsi Dharmakerti:
Ya, anaknda, yadnya itulah yang Guru maksudkan yaitu suatu korban suci yang berdasarkan cinta kasih.

Sang Suyasa:
Bagaimana pelaksanaannya Gurunda?

Rsi Dharmakerti:
Sabarlah sedikit anaknda! Karena sebelum Guru jelaskan tata cara pelaksanaan yadnya-yadnya itu, Guru akan berikan ketentuan-ketentuan apa yang harus diketahui dalam melaksanakan yadnya itu. Guru akan mulai dengan ketentuan-ketentuan mengenai Dewa Yadnya, yaitu:
a. Tempatnya di Pura atau di tempat-tempat yang baik, bersih dan mempunyai suasana kesucian. Bila untuk melakukan Tri Sandhya (sembahyang tiga kali sehari) dapat dilakukan di dalam rumah ataupun di luar rumah di tempat yang suci.
b. Adanya sanggar surya sebagai syarat minimal yaitu pengganti dari Padmasana, tempat bersthana-nya Hyang Widhi.
c. Adanya sajen, haturan dengan bahan terutama terdiri dari api, air, bersih dan bunga harum yang segar.
d. Tempat sajen dibuat seindah mungkin menurut bahan yang ada dan sesuai dengan seni budaya setempat, tetapi agar tetap dapat menimbulkan suasana kesucian.
e. Di antar dengan doa puja sulinggih atau pemuka agama.
f. Disudahi dengan sembahyang dan ditutup dengan air suci (tirtha) yang dipercikkan dan diminum.

Inilah ketentuan-ketentuan yang minimal. Adapun tata cara melaksanakannya yaitu:
a. Pelinggih (sthana) Hyang Widhi diberi upacara pensucian.
b. Memohon dengan pujian semoga Hyang Widhi datang bersthana di pelinggih. Dipakai puja Utpatti.
c. Menghaturkan upacara pensucian dengan diantar oleh puja Sthiti.
d. Menghaturkan puja wali sesuai dengan tingkat atau macamnya upacara sebagai simbol kesujudan terhadap Hyang Widhi.
e. Sembahyang yang diakhiri dengan metirtha.
f. Upacara penutup disebut “Nyimpen” atau “Ngeluar” dengan memakai puja Pralina.

Sekarang akan Guru uraikan ketentuan-ketentuan upacara Pitra Yadnya. Pitra Yadnya dilakukan dengan cara-cara:
a. Sawa – prateka, artinya penyelenggaraan mayit untuk kembali kepada Panca Mahabhuta (alam semesta) yaitu unsur-unsur air, api, hawa dan ether dengan cara dibakar atau dikuburkan.
b. Atma – wedana, ialah upacara mengembalikan atman dari bhuh loka (bumi), bhuah loka (alam pitara) ke swah loka (sorga atau alam Dewa).

Sawa Prateka dibagi-bagi lagi menjadi dua yaitu:
a. Sawa – wedana, ialah upacara pembakaran mayat yang masih dapat diketemukan; dan Asti – wedana, yaitu upacara setelah mayit menjadi tulang dan abu yang kemudian dihanyut ke air sungai yang bermuara ke laut.
b. Swastha ialah upacara pembakaran atas mayat yang tidak lagi dapat diketemukan.

Sawa Prateka dilakukan dengan jalan:
a. Mayat dimandikan dengan air bersih dan terakhir dengan air wangi
b. Segala lubang yang ada di badan mayat ditutup
c. Digulung dengan kain putih

Sawa Wedana yaitu upacara membakar mayat dikuburkan ialah dengan cara:
a. Mayat dibakat terutama dengan api suci yaitu api yang didapat dari suryakanta atau api yang telah dipuja oleh Sulinggih dan dengan bahan bakar/kayu api yang dianggap suci dan harum misalnya cendana, majagau dan lain-lainnya, tetapi hanya sekedar saja sebagai syarat.
b. Abunya dipuja (astiwedana) dan kemudian dihanyutkan di laut atau di air sungai yang bermuara ke laut.
c. Memakai bahan sajen yang terutama terdiri dari api (dupa), air suci dan bunga yang segar dan harum
d. Di antar dengan sembah oleh sanak keluarga ke hadapan Sang Hyang Widhi dan terakhir bersujud pada Sang Pitara.

Selain dari pembakaran mayat yang secara sawa-wedana ada juga secara swastha, yaitu jika mayat tidak mungkin lagi diketemukan. Upacara ini dilakukan dengan menggantikan mayat dengan kosa sarira (jalinan ilalang berbentuk badan manusia) atau dengan toya sarira (air suci di tambah bunga-bunga) yang diwujudkan dengan puja sulinggih (Puja sawa-prateka).

Kusa-sarira itu dibakar dengan upacara yang sama dengan sawa-wedana.

Setelah sawa-wedana atau swastha ini berakhir maka tibalah saatnya diadakan upacara atmawedana. Upacara ini dilakukan dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
a. Tempatnya di rumah atau di suatu tempat lain yang telah ditentukan.
b. Simbul dari pada atman ialah puspa sarira yaitu susunan bunga yang berbentuk badan manusia atau toya sarira yang dibuat dari pada air suci ditambah bunga dan diwujudkan dengan puja atma tatwa
c. Banten-banten sajen terutama terdiri dari api, air, suci bunga yang segar dan harum
d. Diantar dengan puja Pralina oleh Sulinggih atau pemuka agama yang diakhiri dengan pembakaran puspasarira itu.
e. Sanak keluarga menyembah kehadapan Sang Hyang Widhi dan akhirnya kepada Sang Pitara
f. Abu puspa sarira dihanyutkan di laut atau di air sungai yang bermuara ke laut.

Jalan yang sebaik-baiknya bagi atman untuk cepat dapat bersatu dengan Hyang Widhi yaitu terlepas dari ikatan kebendaan ialah dengan membakar seketika. Bila tidak sempat membakar secepatnya, dapat juga ditanam selaku titipan di kuburan sampai waktunya dapat dilakukan pembakaran. Tetapi pelaksanaan ini harus memenuhi beberapa syarat:

a. Kuburan menghadap ke arah gunung setempat atau ke arah terbitnya matahari.
b. Lubang kuburan dalamnya minimal 1,5m
c. Sebelum dipakai diberi upacara pensucian dan pemakluman kepada Sang Hyang Prajapati sebagai penguasa daerah kuburan itu.

Cara-cara menyelenggarakan mayat yang akan dikubur ialah mula-mula dimandikan dengan cara yang sama sebagai mayat yang akan dibakar. Kemudian mayat di bawa ke kuburan dan dikubur dengan disertai upacara permakluman kepada Sang Hyang Prajapati.

Tetapi Guru tegaskan di sini anakku, bahwa yang paling baik adalah agar mayat dapat dibakar dan dalam waktu selambat-lambatnya 7 hari, karena menurut ajaran Puranayama tatwa mayat yang lama dalam kuburan akan merupakan sumber bibit penyakit yang diistilahkan sebagai Bhutacuil, Bhutakubandha dan sebagainya.

Itulah upacara Pitra yadnya. Dan kini Guru akan menguraikan sedikit mengenai Rsi yadnya. Upacara ini adalah pengorbanan suci keagamaan dari umat yang ditujukan kepada Rsi-Rsi atau orang-orang suci.

Cara-caranya ada beberapa macam, yaitu:
1. Menobatkan calon sulinggih (mediksa) menjadi orang suci agama (Sulinggih)
2. Membangun tempat pemujaan untuk beliau.
3. Menghaturkan punia kepada para Sulinggih
4. Mentaati dan mengamalkan ajaran-ajaran para Sulinggih
5. Membantu pendidikan agama bagi calon Sulinggih

Kini Guru aklan uraikan perihal Bhuta yadnya.

Bhuta yadnya adalah pengorbanan suci kepada semua mahluk dan kepada alam semesta untuk memperkuat keharmonisan hidup.

Caranya ada bermacam-macam ialah:
1. Dengan mengadakan upacara korban terhadap mahluk yang tidak kelihatan serta kekuatan alam semesta yang dinamai mecaru atau tawur yang telah diatur dari yang terkecil sampai yang terbesar yaitu: Saiban atau banten jotan setiap selesai memasak di dapur; Segehan, Panca-sata, Panca sanak, Panca kelud, Rsi Gana, Balik Sumpah, Tabuh gentuh, PAnca Wali Krama (setiap 10 tahun sekali) dan Eka Dasa Rudra (setiap 100 tahun sekali).
2. Dengan menjaga dan menyelenggarakan kehidupan mahluk antara lain binatang-binatang peliharaan serta tanam-tanaman dengan sebaik-baiknya. Di Bali upacara ini dinamai Tumpek kandang dan Tumpek Pangatag

Akhirnya kita sampai kepada Manusa yadnya yaitu pengorbanan suci yang ditujukan untuk kesempurnaan hidup manusia.

Cara-caranya ada bermacam-macam antara lain:
1. Mengadakan upacara selamatan pada waktu:
a. Bayi dalam kandungan atau gharba wedana (ma-gedong2-an)
b. Bayi baru lahir
c. Bayi baru berumur 42 hari (tutug kambuhan)
d. Bayi berumur 3 bulan
e. Bayi berumur 6 bulan (Paweton atau Oton)
f. Anak meningkat dewasa (Rajasewala)
g. Potong gigi
h. Kawin

2. Mengadakan usaha untuk kemajuan serta kebahagiaan hidup anak dalam masyarakat antara lain menyelenggarakan pendidikan dan kesehatannya.

3. Menolong serta menghormati sesama manusia misalnya menghormati tamu (atithi krama) serta menolong orang menderita secara tulus iklas.

Published in: on 23 July 2009 at 5:59 pm  Leave a Comment  
Tags:

The URI to TrackBack this entry is: https://taksu.wordpress.com/2009/07/23/upacara/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: