Tri Sandhya

Sang Suyasa:
Sungguh berbahagia rasa hati hamba dapat mengetahui dengan jelas tatacara muspa itu, Gurunda. Tadi Gurunda menyebutkan Trisandhya, jika hamba tidak salah. Apakah itu Gurunda? Mohon diberi penjelasan.

Rsi Dharmakerti:
Memang anakku, tadi Guru menyebutkan Trisandhya dalam rangka persembahyangan juga Trisandhya artinya menghubungkan diri (bayu, sabda, idep atau tenaga, ucapan dan pikiran atau kayika, wacika, manacika) dengan Hyang Widhi yang dilakukan tiga kali sehari atau sekali sehari yaitu waktu pagi, siang dan sore. Kata tri artinya tiga, dan sandhya artinya perhubungan atau penyatuan.


Dalam melakukan Trisandhya ini tidak terikat oleh ketentuan-ketentuan gerak tangan sebagaimana halnya sembahyang biasa. Sikap duduk atau berdiri, sama sebagai kalau sembahyang. Hanya sikap tangan yang berbeda yaitu diletakkan pada ulu hati, sama dengan sikap memegang dupa waktu sembahyang. Mata dipejamkan atau diarahkan ke ujung hidung (agranasika). Seteah duduk dengan sikap yoga yang baik (tulang punggung tegak lurus) mulailah dengan Pranayama (mengatur nafas) diiringi mantra:

Om Ang Namah (puraka yaitu menarik nafas pelan-pelan)
Om Ung Namah (kumbhakta yaitu menahan nafas)
Om Mang Namah (recaka yaitu mengeluarkan nafas pelan-pelan)

Pranayama ini dilakukan dengan tenang sehingga terasa jiwa menjadi tentram. Dalam keadaan demikian mulailah mengucapkan mantra-mantra Gayatri:

Om Bhur Bhuwah Swah
Tat Sawitur warenyam bhargo dewasya dhimah
dhiyo yo nah pracodayat

Om Narayanad ewedam sarwam, yad bhutam yas ca bhawyam,
niskalanko niranjano nirwikalpo
nirakhyatah suddho dewo eko
Narayana nadwityo asti kascit

Om twam Siwa twam Mahadewa Iswara Parameswara,
Brahma Wisnuca Rudrasca, Purusa Parikirtitah

Om Papo’ham papakarmaham papatma papasambhawah,
Trahi mam Pundarikaksa, sabahyabyantara sucih.

Om ksamaswa mam Mahadewa, sarwaprani hitankara,
Mam mocca sarwapapebhyah, palayaswa Sadasiwa

Om Ksantawya kayika dosah, ksantawya wacika mama,
Ksantawya manasa dosah, tat pramadat ksamaswa mam

Artinya:

O Hyang Widhi yang menguasai ketiga dunia ini, yang maha suci dan sumber segala kehidupan, sumber segala cahaya; semoga HYang Widhi melimpahkan pada budi nurani kita penerangan sinar cahayaNya yang maha suci.

O Hyang Parama Kawi, dari Hyang Widhi-lah segala yang sudah ada dan yang akan ada di alam ini berasal dan kembali nantinya, Hyang Widhi adalah gaib; tidak berwujud, mengatasi segala kebingungan, tidak termusnahkan. Hyang Widhi adalah maha cemerlang, maha suci, maha Esa dan tidak sekali-kali ada duanya.

Hyang Widhi disebut juga Siwa, Mahadewa, Iswara, Parameswara, Brahma, Wisnu dan juga Rudra, HYang Widhi adalah asal mula dari segala yang ada. Demikianlah Hyang Widhi dipuja selalu.

O Hyang Widhi, hamba ini penuh dengan kenestapaan, perbuatan hamba penuh kenestapaan, jiwa hamba juga nestapa dan kelahiran hambapun penuh dengan kenestapaan. O Hyang Widhi selamatkanlah hamba dari segala kenestapaan ini, semoga dapatlah disucikan dari lahir dan batin hamba.

Ampunilah hamba, O Hyang Widhi. Penyelamat segala mahluk. Lepaskanlah kiranya hamba dari segala kenestapaan ini dan tuntunlah hamba, selamatkan dan lindungilah hamba, O Hyang Widhi.

O Hyang Widhi, ampunilah segala dosa yang berasal dari perbuatan hamba, ampunilah dosa dari ucapan hamba dan ampunilah pula dosa dari pikiran hamba, Ampunilah hamba atas segala kelalaian hamba itu.

O Hyang Widhi, semoga damai di hati, damai di dunia, damai selalu.

Inilah anakku yang disebut Trisandhya. Mantra-mantra dalam sembahyang dan Trisandhya ini semuanya dengan bahasa Sansekerta yang harus diingatkan. Tetapi tidak berarti bahwa sebelum hafal ucapan-ucapan Sanskerta ini anaknda tidak boleh melakukan persembahyangan atau TriSandhya. Boleh.

Ingatlah bahwa Hyang Widhi itu Maha Tahu yang mengetahui segala ucapan, atau yang tidak diucapkan. Asalkan berdasar kesucian dan keluar dari hati yang tulus, tentu Hyang Widhi akan mendengarkannya. Hanya untuk keseragaman, akan lebih baik jika dapat dihafalkan bahasa Sansekerta ini.

Sang Suyasa:
Baiklah Gurunda, hamba akan berusaha keras untuk menghafal dan menjadikan mantra-mantra ini sebagai suara hati hamba yang tulus. Semoga Hyang Widhi melimpahkan kekuatan pada diri hamba.

Gurunda, tadi Gurunda menguraikan bahwa sehabis sembahyang dan tentu juga sehabis melakukan Trisandhya harus menggunakan air suci (tirtha atau wasuh pada). Bagaimana cara untuk mendapatkan air suci ini Gurunda?

Rsi Dharmakerti:
O, benar-benar pertanyaan anaknda sudah sampai pada pelaksanaan upacara. Baiklah akan Guru uraikan hal itu. Hanya hendaknya anaknda ketahui bahwa untuk mendapatkan air suci itu ada dua macam. Ada yang dibuat sendiri dan ada yang didapat dengan memohon.

Di dalam agama kita sudah ada ketentuan bahwa hanya Sulinggih, mereka yang sudah disucikan atau didiksa atau sudah didwijatikan yang berhak membuat air suci ini. Sedangkan bagi mereka yang belum didiksa dan belum berhak melakukan “loka palasraya” yaitu memimpin umat dan bertanggung jawab atas upacara, belum dibolehkan membuat air suci. Mereka hanya boleh “memohon” air suci, karena tidak sedikit syarat-syaratnya untuk membuat air suci itu. Adapun untuk memohon air suci, ketentuan-ketentuan dan cara-caranya akan Guru jelaskan sekarang.

Ketentuannya:
1. Pemohon harus sudah bersih lahir batin
2. Berpakaian yang khusus untuk hal-hal yang suci
3. Menghadap ke arah terbit matahari atau gunung setempat
4. Kedua tangan diangkat sampai ke atas kepala dengan memegang suatu tempat khusus untuk air suci berisi bunga di dalam air itu dan dupa sudah dinyalakan dipegang.

Caranya ialah dengan memusatkan pikiran dengan puja permohonan:

Om Anantasanaya namah, Om Padmasanaya namah,
Om i ba sa ta a,
Om ya na ma si wa,
Mang Ang Ung namah,
Om Aum Dewapratisthaya namah,
Om sa ba ta a i,
Om na ma si wa ya
Ang Ung Mang namah

Om Ganga Saraswati Sindhu; WWipasa, Kausikinadi,
Yamuna mahasrestha Sarayu ca mahanadi,
Om Ganggadewi mahapunya, Ganggasahasramedhini
Gangga tarangga samyukte, Ganggadewi namo’stute
Om Gangga mahadewi tadopama mrtanjiwani,
Ungkariksara bhuwana padamrta manohara,
Om Utpatika surasanca, utpati tawa ghorasca,
Utpati sarwa hitanca, utpatiwa sriwahinam

Artinya:
Hamba memuja tempat (asana). Ia yang tanpa akhir. Hamba memuja tempat (asana) Ia yang suci, bagai teratai. Semoga Hyang Widhi dengan kekuatannya yang menguasai sepuluh penjuru alam ini melindungi dan membangkitkan kekuatan suci (utpati). Hamba memuja kemahakuasaan Hyang Widhi dalam manifestasi Trisakti (Ang Ung Mang).

Hamba memuja Hyang Widhi yang bersemayam di tempat ini (di air suci). Semoga Hyang Widhi dengan kekuatannya yang menguasa sepuluh penjuru alam melindungi dan menegakkan kekuatan suci (Sthiti) ini.

Hamba memuja kemahakuasaan Hyang Widhi dalam manifestasi Trisakti (Ang Ung Mang).

Hamba memuja Dikau O, Gangga, Saraswati, Sindhi, Wipasa, Kausiki, Yamuna, Sarayu, tujuh sungai suci yang agung dan membahagiakan. Hamba memuja Dikau, Dewi Gangga yang maha suci, Gangga sumber ribuan ilmu pengetahuan, yang bersatu dalam riak gelombaknya Gangga.

Dewi Gangga yang maha indah, Dikau adalah maha gaib dan merupakan air suci kehidupan abadi.

Dalam aksara suci Dikau adalah aksara U di dalam alam dari kakiMu mengalir amerta yang membahagiakan mahluk.

O Hyang Widhi, ciptakanlah (dalam air suci ini) kenikmatan rasa, kekuatan suci serta diciptakan kegunaan dan bawakan kewibawaan untuk kesejahteraan semua mahluk.

Demikianlah, anakku, maksud dari pemujaan memohon air suci yang merupakan amerta untuk membahagiakan semua mahluk

Sang Suyasa:
Sudah cukup jelas uraian Gurunda. Tadi Gurunda menyebutkan bahwa hanya orang yang sudah disucikan, didiksa atau didwijatikan yang boleh membuat tirtha. Mohon dijelaskan apa artinya semua itu.

Rsi Dharmakerti:
Baiklah anakku, dengarkanlah. Kata “diksa” artinya disucikan menurut ketentuan dan untuk tujuan keagamaan umpamanya untuk menjadi pendeta atau Sulinggih. Kata “dwijati” artinya “lahir dua kali”, maksudnya bahwa manusia itu lahir pertama ialah dari perut ibu ka dunia ini. Tetapi agar seseorang itu dapat hidup di dalam dunia agama maka ia perlu dilahirkan untuk kedua kalinya yaitu dari dunia ini ke dunia agama atau kesucian. Men-dwijati-kan hanya dapat dilakukan oleh seorang yang sudah pernah di-dwijatikan karena sangat berat syarat-syarat pantangan-pantangannya. Upacara ini termasuk dalam Rsi Yadnya. Tetapi yang perlu diketahui dan dilaksanakan untuk orang-orang biasa untuk mensucikan diri atau orang lain, cukup dilakukan oleh orang yang sudah “di-winten” (disucikan). Me-winten-kan seorangpun harus dilakukan oleh Pendeta atau Sulinggih. Orang yang belum “di-diksa” atau di-“dwijati”kan atau di-“winten” tidak boleh sama sekali mewintenkan atau men-diksa-kan orang lain.

Cara-caranya:
1. Lakukan di tempat yang mempunyai suasana kesucian.
2. Siapkan:
a. air suci yang telah dimohon tadi,
b. dupa,
c. sajen dari bunga-bunga dan buah-buahan.
3. Yang mensucikan itu mengucapkan puja:
a. Mantra Prayashita (Pensucian):

Om Siddhi gurusrong sarasat,
Om sarwawighnaya namah,
sarwa klesa – sarwa roga – sarwa satru – sarwa papa – winasaya namah swaha

O Hyang Widhi, semoga Guru men-siddhi-kan pensucian ini,
O Hyang Widhi, Pelebur segala rintangan, hamba memujaMu.
Hamba memuja Hyang Widhi, Pembasmi segala derita, segala penyakit, segala musuh dan kenestapaan,
semoga sirnalah segala kekotoran jiwa

b. Mantra Ayuwredhi – mretyunjaya (Panjang umur dan mengalahkan kematian)

Om mretyunjaya dewasya yo namami anukirtaye
dirghayusyam awapnoti, sanggrame wijayi bhawet
Om ayur wredhir yasowredhir, wredhih pradnja sukhasryam,
dharmasantana wredhisca santute sapta wredhayah
yawan merau sthita dewa yawad gangga mahi tale candrarka gagane yawat,
tawat wa wijayi bhawet,
Om dirghayu astu tathastu astu
Om awighnam astu tathastu astu,
Om Subham astu, tathasu astu,
Om sukham bhawatu, Om Purnam bhawatu, Om sreyam bhawatu
Sapta wredhir astu tathastu astu swaha

Artinya:

O Hyang Widhi, hamba memujaMu semoga dengan sinar suciMu kematian dapat ditaklukkan. Semoga selalu jaya di medan perang dan mencapai umur yang panjang. Semoga selalu bertambah dalam ketujuh hal, yaitu umur bertambah, bertambah kepandaian, kebahagiaan, kewibawaan dharma dan keluarga. Selama gunung dan sungai ada di bumi, selama matahari dan bulan bersinar di cakrawala, semoga selama itu pulalah kejayaan didapati.

O Hyang Widhi, semoga jadilah mendapat umur panjang. Semoga terhindarlah dari segala halangan. Semoga selalu mendapat kebaikan. Semogalah bahagia, sempurna, berwibawa dan bertambahlah ketujuh hal tersebut di atas. (Dengan anugrahMu, segalanya itu menjadilah).

Selama hal ini dilakukan yang mensucikan menghadap yang disucikan dengan dupa di tangan. Setelah selesai ucapan mantra di atas, dupa ditaruh dekat sajian dari bunga dan buah itu. Ambillah air suci yang sudah tersedia dengan mantra:

“Om gangga dewi namaskaram, ungkaram parikirti tam sarwawighnam winasatu, sarwarogan winasatu”

Hamba puja Dikau, Dewi Gangga; hamba puja Dikau dalam manifestasi aksara suci U. Semgoa binasalah segala yang menghalang, semoga binasalah penderitaan.

Setelah selesai, percikkan air suci itu tiga kali pada sesajen tadi dan kemudian dipercikkan pada yang disucikan, diraupkan dan diminumkan masing-masing tiga kali dengan mantra:

“Om atma tatwatma sudhaya mam swaha
Om prathamasudha, dwitya sudha, trithiya sudha, sudham, sudham, wari astu
Om dirghayur astu tathastu astu,
Om awighnam astu tathastu astu,
Om sudham astu tathastu astu,
Om sukham bhawatu, Om purnam bhawatu,
Om sreyo bhawatu, saptawredhir astu, tathastu astu swaha”

Setelah selesai maha yang disucikan itu berulang-ulang sebanyak tiga kali mengucapkan puja Gayatri:

“Om bhur bhuwah swah
tat sawitur warenyam bhargo dewasya dhimahi
dhiyo yo nah pracodayat

Setelah selesai kepada yang disucikan diberikan “bhasma” yatu beberapa butir beras direndam pada air cendana yang sudah dipuja untuk sedikit dimakan dan ditaruh pada kening. Pujanya:

“Om idam bhasma param guhyam sarwapapa – winasanam, sarwaroga pracamanam, sarwakalusa nasanam”

Demikianlah anakku, dengan selesainya upacara ini maka selesailah pensucian seseorang atau sekelompok orang itu. Sedangkan sajian tadi, sepanjang yang dapat dimakan, hendaknya dibagi-bagikan kepada yang disucikan dan para raksi sebagai prasaa (pemberian dengan tulus dari sisa haturan pada Hyang Widhi tanda turut berbahagia dan mendoakan untuk dimakan.

Ada juga cara lain sebagai tambahan yaitu yang hadir menyiramkan bunga-bunga pada yang disucikan dengan maksud asirwada (mendoakan bersama semoga berhasil).

Published in: on 23 July 2009 at 6:04 pm  Comments (1)  
Tags: ,

The URI to TrackBack this entry is: https://taksu.wordpress.com/2009/07/23/tri-sandhya/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentLeave a comment

  1. mohon dapatnya dikirimkan isi buku upadesa secara lengkap, terimakasih atas bantuannya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: