Susila

Sang Suyasa:
Gurunda, hamba sering mendengar kata-kata Tat Twam Asi. Apakah yang dimaksudkan?

Rsi Dharmakerti:
Tat Twam Asi adalah kata-kata dalam filsafat Hindu yang mengajarkan kesosialan yang tanpa batas karena diketahui bahwa “ia adalah kamu”, saya adalah kamu dan segala mahluk adalah sama sehingga menolong orang lain berarti menolong diri sendiri dan menyakiti orang lain berarti pula menyakiti diri sendiri. Jiwa sosial ini juga diresapi oleh sinar-sinar tuntungan kesucian Tuhan dan tidak oleh jiwa kebendaan.


Tat artinya Itu (Ia), Twam artinya Kamu dan Asi artinya Adalah. Disamping merupakan jiwa kesosialan, filsafat hidup Tat Twam Asi ini merupakan juga dasar dari susila Hindu.

Susila adalah tingkah laku yang baik dan mulia yang selaras dengan ketentuan-ketentuan Dharma dan Yadnya.

Yang Guru maksudkan dengan Dharma dalam susila ini ialah perhubungan yang selaras dan rukun antara sesama manusia dengan semesta alam. Hubungan yang harmonis yang berlandaskan yadnya yaitu kurban suci yang berlandaskan keikhlasan dan kasih sayang.

Anakku, di dalam Pustaka Suci Weda disebutkan bahwa dunia ini diciptakan Sang Hyang Widhi dan dipelihara dengan pengorbanan suci. Berarti Sang Hyang Widhi berdasar cinta kasihnya mengorbankan diriNya untuk menciptakan alam semesta ini. Sang Hyang Widhi tidak tinggal di luar tetapi berada di dalam alam semesta itu sendiri. Dalam hal ini

Sang Hyang Widhi disebut Sang Hyang Jagatkarana atau Sang Hyang Jagatnatha. Dan sesudah Sang Hyang widhi menciptakan alam berdasar Yadnya ini barulah beliau menyampaikan Weda dengan perantaraan wahyu yang didengar oleh Bhagawan Wyasa. Yadnya pada dasarnya pemberian dengan tulus ikhlas.

Dalam Bhagawad Gita, Sri Kresna menceritakan bagaimana Prajapati setelah menciptakan mahluk ini dengan Yadnya mencapai tujuannya yang dapat memberikan kebahagiaan (kamadhug). Yadnya juga dapat membantu hubungan antara manusia dengan Sang Hyang Widhi dengan Dewa-Dewa dan Pitara-Pitara untuk saling membahagiakan. Dalam Bhagawad Gita dikatakan bahwa mendahulukan untuk kepentingan Yadnya dan barulah kemudian menikmati sisanya (Yadnya sesa) adalah jalan untuk memperoleh waranugraha dari Sang Hyang Widhi.

Berdosalah ia yang makan sendiri tanpa menghiraukan keperluan Yadnya.

Jadi demikianlah anakku, karena Sang Hyang Widhi menciptakan alam semesta ini berdasarkan YadnyaNya yang kekal abadi, yang merupakan Rna (hutang) bagi kita, maka patutlah kita membayar hutang itu, dengan Yadnya pula, guna mendapat anugrah, tuntunan, kebahagiaan, kedamaian serta kebebasan yang abadi.

Dan Rna kita itu ada tiga macam, anakku, yaitu:
a. Dewa Rna, ialah hutang pengetahuan kepada Dewa
b. Pitra Rna, ialah hutang jasa kepada para leluhur dan
c. Rsi Rna, hutang pengetahuan kepada Rsi

Dan sebagai Guru katakan tadi, hutang ini patut dibayar. Caranya ialah dengan melakukan Panca Yadnya, yaitu:
a. Dewa Yadnya ialah korban suci dengan tulus ikhlas kehadapan Sang Hyang Widhi dengan jalan cinta bakti, sujud memuja serta mengikuti segala ajaran-ajaran suciNya, melakukan tirtayatra (kunjungan ke tempat suci).
b. Pitra Yadnya ialah korban suci yang tulus ikhlas kepada leluhur dengan memujakan keselamatannya di akhirat serta memelihara keturunan dan menurut segala tuntunannya.
c. Manusa Yadnya ialah korban suci yang tulus ikhlas untuk keselamatan keturunan serta kesejahteraan manusia lain dengan dana punia serta usaha kesejahteraan lainnya.
d. Rsi Yadnya ialah korban suci yang tulus ikhlas untuk kesejahteraan para Rsi serta mengamalkan segala ajarannya.
e. Bhuta Yadnya ialah korban suci yang tulus ikhlas kepada sekalian mahluk bawahan yang kelihatan maupun yang tidak, untuk memelihara kesejahteraan alam semesta.

Itulah semua yadnya yang patut dilakukan anakku. Yang patut melakukan ini bukannya satu dua orang tetapi seluruh umat, sesuai dengan tingkatan perkembangan kerohanian yang disebut Catur Asrama dan juga sesuai dengan tugas-tugasnya sendiri (swadharma) yang diatur oleh bakat kelahirannya masing-masing yaitu yang disebut Catur Warna.

Sang Suyasa:
Gurunda, mohon diuraikan apa Catur Asrama dan Catur Warna itu agar hamba benar-benar dapat menikmati kehidupan dalam masyarakat Hindu kita.

Rsi Dharmakerti:

Yang disebut Catur Asrama yaitu:
a. Brahmacari, ialah tingkatan hidup manusia pada waktu sedang mengejar ilmu pengetahuan/ilmu ketuhanan. “Brahma” di sini artinya ilmu pengetahuan/ilmu ketuhanan dan “cara” artinya tingkah laku dalam mengejar.
b. Grehastha, ialah tingkat kehidupan pada waktu membina rumah tangga yaitu dengan kawin dan melahirkan keturunan. “Greha” artinya rumah atau rumah tangga, “stha” artinya berdiri atau mendirikan, membina.
c. Wanaprastha, ialah tingkat hidup persiapan untuk lebih meningkatkan hidup kerohanian dan perlahan-lahan membebaskan diri dari ikatan keduniawian. Ia tetap mengabdi kepada masyarakat hanyalah tidak demikian melibatkan diri sebagai pada waktu di tingkat grehastha.
d. Biksuka (sannyasin) itu ialah tingkat kehidupan yang lepas dari ikatan keduniawian dan hanya mengabdikan diri kepada Sang Hyang Widhi dengan jalan menyebarkan ajaran-ajaran kesucian. Arti kata “Biksuka” sendiri ialah peminta-minta tetapi yang dimaksud ialah bahwa ia tidak boleh mempunyai apa-apa dalam pengabdiannya pada Sang Hyang Widhi dan untuk makanannya pun ditanggung oleh murid-murid atau pengikutnya atau umat sendiri. Dan kata “Sannyasin” artinya meninggalkan keduniawian dan hanya mengabdi kepada Sang Hyang Widhi dengan memperlimbak ajaran-ajaran kesucian (nisparagrha).

Dalam Catur Warna, kata warna berarti sifat dan bakat kelahirannya dalam mengabdi pada masyarakat berdasarkan kecintaan yang menimbulkan kegairahan kerja.

Jadi Catur Warna ialah empat golongan karya dalam masyarakat Hindu, yaitu:
a. Brahmana ialah golongan karya yang setiap orangnya memiliki ilmu pengetahuan suci dan mempunyai bakat kelahiran untuk mensejahterakan masyarakat, negara dan umat manusia dengan jalan mengamalkan ilmu pengetahuannya dan dapat memimpin upacara keagamaan (kryawidhi yoga dan krya arcana)
b. Ksatria ialah golongan karya yang setiap orangnya memiliki kewibawaan cinta tanah air serta bakat kelahiran untuk memimpin dan mempertahankan kesejahteraan masyarakat, negara dan umat manusia berdasarkan dharmanya.
c. Wesya ialah golongan karya yang setiap orangnya memiliki watak-watak tekun, terampil, hemat, cermat dan keahlian serta bakat kelahiran untuk menyelenggarakan kemakmuran masyarakat negara dan kemanusiaan.
d. Sudra ialah golongan karya yang setiap orangnya memiliki kekuatan jasmaniah, ketaatan serta bakat kelahiran untuk sebagai pelaku utama dalam tugas-tugas memakmurkan masyarakat negara dan umat manusia atas petunjuk-petunjuk golongan karya lainnya.

Hendaknya keempat warna ini bekerja sama bantu membantu sesuai dengan swadharma (watak, sifat/bakatnya masing-masing) untuk membina kesejahteraan masyarakat negara dan umat manusia. PEngabdian setiap anggota masyarakat yang berdasarkan swadharma itu harus didasari oleh Triwarga.

Tri Warga yaitu:
a. Dharma,
b. Artha,
c. Kama

Dharma ialah kebenaran yang merupakan dasar dan jiwa dari segala usaha. Guru tekankan sekali lagi, bahwa Dharma adalah Kebenaran bukan Kesenangan. Karena kadang-kadang yang benar itu belum tentu menyenangkan dan yang menyenangkan itu belum tentu yang benar, tetapi yang selalu dipilih ialah yang benar.

Artha ialah hasil usaha yang merupakan harta benda. Tetapi hasil usaha inipun harus didapat dengan cara yang benar. Memiliki harta benda ini malah akan menjerumuskan kita, jika kita tidak dasari dengan Dharma dan jika tidak kita amalkan untuk Dharma. Nerakalah manusia jika ia tenggelam dalam lautan harta bendanya.

Sang Suyasa:

Maafkan Gurunda, jadi dengan demikian kita tidak perlu mengumpulkan harta benda?

Rsi Dharmakerti:
Bukan demikian anakku. Harta itu perlu dan harus kita usahakan memilikinya tetapi dengan jalan yang benar dan untuk memperkokoh dharma. Jadi dalam agama kita selalu ada dua pemikiran yaitu untuk kesejahteraan rohani dan jasmani mahluk (“bhukti dan mukti”). Dan untuk kesejahteraan jasmani ini bidang ekonomi sangat perlu, asal saja tetap harus berdasarkan dan bertujuan Dharma. Harta benda atau usaha ekonomi itu harus dipakai untuk memperkokoh Dharma, maksudnya ialah bahwa harta itu lebih diutamakan untuk dana punia bagi kesejahteraan umum, disamping untuk kepentingan diri sendiri, umpamanya untuk pembangunan tempat sembahyang, pembangunan sosial, punia kepada orang-orang suci, berdana kepada orang-orang miskin, penderita cacat dan lain-lainnya.

Kama ialah keinginan untuk mendapat kesukaan (kenikmatan). Dan sama halnya dengan Artha, Kama inipun harus didasari dan dijiwai oleh Dharma. Dharma malah hendaknya sebagai pendorong dan pengendali Kama. Karena Kama yang tidak berdasarkan Dharma akan mengakibatkan penderitaan (suka mewali dukha).

Yang Guru maksudkan dengan Dharma dalam Kama ini ialah segala keinginan hendaknya dipenuhi, dilaksanakan dengan dasar kejujuran dan bertujuan untuk kesejahteraan, kesucian atau ketinggian masyarakat. Jadi anakku setiap usaha dalam hidup ini baik Artha maupun Kama harus dijiwai oleh Dharma karena anakku harus ketahui bahwa segala usaha di dunia ini dipengaruhi oleh Tri Guna.

Tri Guna itu ialah Satwa, Rajah, Tamah.

Kalau Satwa dalam keseluruhannya itu menguasai Rajah dan Tamah menyebabkan orang cenderung kepada Dharma, kebaikan, menemui sifat-sifat kedewataan.

Kalau Rajah yang berkuasa menyebabkan orang cenderung kepada Kama, kenafsuan.

Kalau Tamah menguasai yang lainnya menyebabkan watak cenderung kepada Adharma, kebodohan, kejahatan. Tujuan hidup di dunia selalu menguasakan agar Satwa menguasai yang lainnya sebagai dikatakan dalam Bhagawad Gita XIV, 18:

“Mereka yang menetap dalam Satwa selalu ke arah kebaikan dan menetap dalam Rajas tetap tinggal di tengah-tengah sedangkan yang menetap dalam Tamas akan terus menurun derajat jiwanya.”

Tetapi anaknda, semua hal yang Guru sebutkan tadi merupakan ajaran-ajaran yang mendasari setiap laksana kita dalam berlaku susila. Dasar-dasar ini perlu kita ketahui untuk dapat berlaksana yang baik dan menghilangkan segala musuh yang ada di hati kita sendiri. Dan yang sebenarnya musuh-musuh ini adalah jauh lebih berbahaya dari pada musuh-musuh yang datang dari luar.

Sang Suyasa:
Gurunda, sangat tertarik hati hamba untuk mengetahui musuh-musuh mana yang Gurunda maksudkan itu?

Rsi Dharmakerti:
Sungguh bijaksana pertanyaan anaknda itu, karena sesungguhnya jauh lebih berarti jika kita mengetahui dan dapat menaklukkan musuh-musuh yang ada di dalam hati kita sendiri dari pada mengetahui serta dapat menaklukkan musuh-musuh yang datangnya dari luar diri kita karena sesungguhnya jauh lebih sukar menaklukkan musuh-musuh di dalam diri sendiri. Dan musuh-musuh itu ada bermacam-macam anakku.

Ada yang dinamai Sadripu, Sadatatayi dan ada yang bernama Sapta Timira

Sadripu ialah enam jenis musuh, yaitu:
a. Kama – nafsu
b. Lobha – loba (serakah)
c. Krodha – kemarahan
d. Mada – kemabukan
e. Moha – kebingungan
f. Matsarya – iri hati

Sadatatayi ialah enam macam pembunuh kejam, yaitu:
a. Agnida – membakar milik orang lain
b. Wisada – meracun
c. Atharwa – melakukan ilmu hitam (sihir)
d. Sastraghna – mengambuk
e. Dratikrama – memperkosa
f. Rajapisuna – memfitnah (sampai mengakibatkan kematian orang)

Sapta Timira ialah tujuh macam kegelapan atau kemabukan, yaitu:
a. surupa – rupa tampan (cantik)
b. dhana – kekayaan
c. guna – kepandaian
d. kulina – keturunan
e. yowana – keremajaan
f. sura – minuman keras
g. kasuran – kemenangan

Inilah anakku antara lain musuh-musuh yang ada dalam diri kita.

Sang Suyasa:
Setelah mengetahui musuh-musuh itu, diri hamba merasa takut. Gurunda, karena demikian sulit nampaknya untuk ditaklukkan dan demikian dekat. Tuntunlah hamba, Gurunda, ajarkan pada hamba senjata untuk melawan musuh-musuh itu.

Rsi Dharmakerti:
Jangan gelisah anakku. Tenangkan hati, pusatkan pikiran dan dengarkanlah. Akan Guru bentangkan segala apa yang dapat dipakai memerangi musuh-musuh itu. Dan inipun menurut kemampuan masing-masing. Yang tersingkat ialah Trikaya Parisudha.

Trikaya artinya tida dasar perilaku manusia. Parisudha berarti yang harus disucikan. Jadi Trikaya Parisudha ialah tiga dasar perilaku yang harus disucikan yaitu manacika, wacika dan kayika, yang masing-masing berarti “dasar perilakunya pikiran, perkataan dan perbuatan”.

Dengan adanya pikiran yang baik akan timbul perkataan yang baik, sehingga mewujudkan perbuatan yang baik. Dengan demikian haruslah kita pupuk satunya pikiran, perkataan dan perbuatan yang baik dan suci sebagai dasar perilaku kita.

Dari Trikaya Parisudha timbullah sepuluh pengendalian diri yaitu tiga macam berdasar pikiran, empat macam berdasar perkataan dan tiga macam lagi berdasar perbuatan, sebagai diuraikan alam pustaka Sarasamuscaya.

Tiga macam yang berdasarkan pikiran yaitu:
a. Tidak mengingini sesuatu yang tidak baik
b. Tidak berpikir buruk terhadap mahluk lain
c. Tidak mengingkari akan karma phala.

Empat macam yang berdasarkan perkataan yaitu:
a. Tidak suka mencaci maki
b. Tidak berkata kasar pada mahluk lain
c. Tidak memfitnah
d. Tidak ingkat pada janji atau ucapan

Tiga macam pengendalian berdasarkan perbuatan ialah:
a. Tidak menyiksa atau membunuh mahluk lain
b. Tidak melakukan kecurangan terhadap harta benda
c. Tidak berjina

Di samping mengendalikan atau larangan yang berdasar Trikaya Parisudha itu ada lagi tuntunan susila yang lebih banyak perinciannya.

Ada Panca Yama dan Panca Niyama Brata dan ada Dasa Yama serta Dasa Niyama Brata.

Yang termasuk dalam golongan Panca Yama Brata adalah
a. Ahimsa, artinya tidak menyiksa/membunuh
b. Brahmacari, artinya tidak melakukan hubungan kelamin selama dalam menuntut ilmu pengetahuan/ilmu Ketuhanan
c. Satya, artinya setia akan janji yang menyebabkan senangnya orang lain.
d. Awyawaharika, artinya melakukan usaha-usaha yang selalu bersumber kedamaian dan ketulusan.
e. Asteya artinya tidak mencuri, tidak curang.

Panca Niyama Brata ialah:
a. akrodha, artinya tidak dikuasai oleh kemarahan
b. Guru Susrusa, artinya hormat, taat dan tekun melakukan ajaran-ajaran Guru.
c. Sauca, artinya kesucian lahir batin
d. Aharalagawa, artinya mengatur macam dan waktu makan dan tidak berfoya-foya
e. Apramada, artinya taat tanpa ketakaburan mempelajari dan mengamalkan ajaran suci.

Di samping panca yama dan panca niyama ini ada perincian yang lebih banyak lagi yaitu: yang disebut dasa yama brata dan dasa niyama brata, masing-masing berjumlah sepuluh.

Dasa Yama Brata ini terdiri dari:
1. Anresangsya atau arimbawa artinya tidak mementingkan diri sendiri
2. Ksama artinya suka mengampuni dan tahan uji dalam kehidupan
3. Satya artinya setia dengan ucapan sehingga menyenangkan serta hidup.
4. Ahimsa artinya tidak membunuh dan tidak menyiksa, menyakiti
5. Dama artinya dapat menasehati diri sendiri
6. Arjawa artinya jujur mempertahankan kebenaran
7. Priti artinya cinta kasih sayang terhadap sesama mahluk
8. PRasada artinya berpikir dan berhati suci dan tanpa pamrih
9. Madurya artinya ramah tamah, lemah lembut, sopan santun.
10. Mardawa artinya rendah hati

Dasa Niyama Brata yaitu:
1. Dana artinya pemberian sedekah
2. Ijya artinya pemujaan terhadap Sang Hyang Widhi dan leluhur.
3. Tapa artinya menggembleng diri untuk menimbulkan daya tahan
4. Dhyana artinya tekun memusatkan pikiran terhadap Sang Hyang Widhi.
5. Swadhyaya artinya mempelajari dan memahami ajaran-ajaran suci
6. Upasthanigraha artinya mengendalikan hawa nafsu kelamin
7. Brata artinya taat akan sumpah
8. Upawasa artinya berpuasa
9. Mona artinya membatasi perkataan
10. Snana artinya melakukan pensucian diri tiap hari edngan jalan membersihkan badan dan bersembahyang

Inilah semua anakku perincian tuntunan yang perlu anaknda ketahui dan laksanakan untuk meningkatkan kesusilaan hidup yang merupakan jaminan akan tercapainya hidup kerohanian yang tinggi.

Sang Suyasa:
Gurunda, sudah cukup banyak yang hamba terima pelajaran-pelajaran yang berguna, tetapi hamba berniat lagi menanyakan bagaimana seharusnya sikap hamba dalam hubungan dengan masyarakat?

Rsi Dharmakerti:
Sangat tepat apa yang anaknda tanyakan. Karena akan percumalah segala pelajaran yang mulia dan tinggi jika yang membawanya tidak tahu bergaul dalam masyarakat, tidak bisa membedakan tata cara pergaulan dengan anak-anak, dengan orang tua.

Baiklah anakku, akan Guru coba menguraikannya.

Anakku, segala hubungan antara sesama yaitu hubungan dengan orang yang sederajat hendaklah sampai tercipta suasana rukun damai, hormat menghormati dan saling bantu membantu.

Terwujudnya suasana yang demikian akan membangkitkan kesadaran bahwa atman yang ada pada dirinya, dengan atman yang ada pada kawannya, bersumber satu yaitu Sang Hyang Widhi (tat twam asi).

Adapun hubungan antara suami istri ialah agar terjamin adanya kerukunan dalam kesatuan pikiran, ucapan, dan laksana antara keduanya. Hidup suami istri bukanlah suatu persaingan menuntut persamaan hak, bukan pula perlombaan dalam melakukan tugas, tetapi keharmonisan dan kesatuan hidup sebagaimana disimbulkan dengan Ardhanareswari yaitu persatuan antara laki dan perempuan dalam satu badan.

Adapun hubungan terhadap Guru Pengajian dan orang tua ialah dengan bakti, hormat, taat akan kewajiban dan terhadap tuntunannya.

Hubungan Guru Wisesa yaitu yang memegang kekuasaan pemerintahan/negara ialah dengan cara menghormatinya, mentaati segala perintah atau hukum yang dikeluarkannya, dengan pengabdian sebagai umat manusia untuk kesentosaan masyarakat.

Guru Pengajian Guru Rupaka (orang tua) dan Guru Wisesa (Pemerintah/NEgara) biasa disebut Tri Guru atau Sang Guru Tiga. Untuk menjadi “catur kang sinanggah Guru” (empat yang dianggap Guru), Hyang Widhi Wasa dianggap sebagai “Guru Sejati” atau Guru Swadhyaya.

Di samping itu anaknda, hendaknya menjadi kebiasaan pada diri sendiri, untuk merendah dengan penuh rasa kasih, lemah lembut dan sopan santun dan dengan bijaksana menenggang pikiran dan perasaan orang lain dengan pikiran perasaannya sendiri.

Adapun jika berhubungan dengan orang bawahan, hendaknya semua di dasari dengan rasa kasih sayang dan murah hati sehingga menimbulkan kemauan baik dan kepercayaan yang timbal balik antara yang dipimpin dengan yang memimpin.

KArena dengan rasa kasih sayang dan rasa cinta akan membawa seseorang lebih dekat dengan sesamanya. Tetapi disamping itu harus jangan dilupakan perlunya ketegasan sikap dan pendapat.

Anakku semua yang telah Guru uraikan dari awal sampai akhir adalah merupakan ajaran yang baru sekedar saja. Tidak banyak yang dapat Guru uraikan. Dan ini semuanya bukanlah buatan Guru sendiri tetapi sudah merupakan warisan dari leluhur kita yang sampai kini terpendam dalam pustaka-pustaka kita. Segala hal yang Guru uraikan disamping terdapat dalam pustaka-pustaka suci Weda Sruti dan Smerti, anaknda dapat tambahkan lagi dengan mempelajari buku-buku Mahabharata, Ramayana, Arjuna Wiwaha, Bharatayudha, Sutasoma, Dewaruci, Bomantaka, Sumanasantaka dan lain-lain yang
semuanya mempunyai unsur-unsur penggugah hati manusia meningkatkan kerohaniannya.

Tokoh yang dapat dipakai teladan ialah Rama, Kresna, Panca Pandawa, Nala, Karna, Sita, Sawitri, Laksamana, Sutasoma dan lain-lainnya.

Kebanyakan isi dari cerita itu membentangkan hukum jiwa “nyato dharma slatho jaya”, artinya kebenaranlah yang menang pada akhirnya. Atau “Satyam ewa jayate na amretam”, yang artinya hanya kebenaranlah yang pasti menang, bukan kecurangan.

Jadi anakku, perasaan iri hati, congkak, sombong, loba dan lain-lain semuanya tidak lama tahannya dan akhirnya menerima kekahalah atau kehancuran.

Keyakinan inilah yang memberikan gambaran yang mendalam pada kehidupan agama Hindu, yang lebih mempercayakan diri pada alam kejiwaan dari pada kekuatan alam kebendaan.

Kekuatan atau kepahlawanan harus didasari oleh kehidupan dan laksana yang benar yaitu berperang untuk kebenaran mempertahankan dharma. Menyimpang dari pada ini akan menemui kehancuran meskipun mempunyai kekuatan yang hebat.

Umpamanya Rawana yang kekuatannya luar biasa akhirnya terpaksa menerima keruntuhannya karena segala perbuatannya berdasarkan adharma. Demikian pula Korawa.

Selanjutnya dengan adanya Rama dan Kresna sebagai Awatara Wisnu, nilai kejiwaan suci pada semua isi cerita Ramayana dan Mahabharata dapat dipakai teladan. Dengan demikian mempelajari dan mengikuti jalan kehidupan awatara-awatara merupakan pelajaran kejiwaan yang tinggi. Dengan melalui ini dengan sendirinya pikiran kita ditingkatkan ke arah keTuhanan.

Published in: on 23 July 2009 at 5:57 pm  Leave a Comment  
Tags: , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://taksu.wordpress.com/2009/07/23/susila/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: