Rsi Vedic Dharma

RSI/BHAGAWAN WYASA
Rsi Wyasa adalah Maharsi yang mengumpulkan wahyu-wahyu suci menjadi kitab suci Weda. Kebesaran jiwa Maharsi Wyasa ini menjiwai nenek moyang keturunan Bharata. Beliau adalah penegak keadilan dan kebenaran sari-sari ajarannya telah dikumpulkan oleh seorang Rsi, yaitu Rsi Wararuci dan nama pustaka itu “Sarasamuccaya”. Ini menjadi suatu kitab suci, sebagai penuntun jiwa untuk mencapai kehidupan yang suci, kehidupan yang tidak terikat oleh hawa nafsu yang akhirnya dapat mencapai kebahagiaan abadi.


RSI/EMPU TANTULAR
Di samping rsi-rsi tersebut di atas perlu juga Guru ceritakan beberapa rsi lagi antara lain: Rsi/Empu Tantular; beliau adalah seorang Rsi yang tinggi pribadinya, seorang Pujangga besar. Hasil karyanya yang berupa syair atau kekawin (wirama) adalah Suta Soma. Dalam cerita itu yang pokok digambarkannya bahwa Sang Hyang Widhi adalah satu bukan dua, sekalipun ada yang mengatakan Siwa dan Budha. Syairnya (kekawinnya) sebagai berikut:

Rwaneka dhatu winuwus wara budha wiswa,
Bhinekai rakwa ringapan kena parwa nasen,
Mangkang jiwatwa kulawan siwa tatwa tunggal,
Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa

Artinya:
Tuhan itu dikatakan ada dua disebut,
Buddha dan Siva, berbeda itu konon,
namun kapan dapat dibagi dua, demikianlah kebesaran Siwa dan Budha adalah satu,
berbeda sebutan tetapi tunggal itu tidak ada Tuhan yang dua.

Jadi jelaslah bahwa kebenaran itu tunggal, tidak mangrwa (tidak mendua). Inilah yang dimuliakan dalam sejarah Agama Hindu dan menjadi keyakinan hidup, dari awal, keyakinan kita bersama, keyakinan Guru, keyakinan seluruh umat manusia.

Anakku, Empu Tantular adalah putra dari Empu Bahula, cucu dari Empu Bharadah yang bersaudara kandung dengan Empu Kuturan. Empu Tantular ini berputra empat orang yaitu:

a. Empu Kanawasikan,
b. Empu Asmaranatha,
c. Empu Sidhimantra,
d. Empu Kepakisan.

Yang terakhir ini adalah leluhur dari Raja Watu Renggong di Gelgel (Bali).

RSI/EMPU KUTURAN
Anakku, akan Guru lanjutkan dengan apa yang perlu diketahui, perihal Empu Kuturan. Beliau hidup di jaman kerajaan Airlangga. Empu Kuturan ini saudara kandung dari Empu Bharadah.

Kedua Empu ini adalah penasehat Prabu Airlangga. Ketika di Kerajaan Airlangga mulai terjadi pertentangan-pertentangan, di mana nasehat Empu Kuturan tiada didengarkan oleh para ksatria, maka beliau lalu mengadakan Dharmayatra mengembara demi untuk kebenaran dan akhirnya sampai ke Bali dengan melalui pesisir utara sampai di ujung timur pulai Bali yakni Padang Bai. Dekat Padang Bai diketemukan sebuah pura Silayukti namanya. Empu Kuturan akhirnya menetap di Bali dan di Pura Silayukti beliau meneruskan melakukan yoga. Ajaran Dharma yang beliau telah miliki lalu disebarkan di Bali. Beliau menciptakan adanya Pura yang disebut Kahyangan Tiga, yaitu Puseh; Desa (Baleagung) dan Dalem, sebagai lambang Brahma, Wisnu dan Durga (Siwa).

Ajaran Agama Hindu terus menyebar luas sehingga meningkatlah kehidupan Dharma di Bali. Dalam babad (cerita sejarah) diceritakan bahwa beliau meninggalkan dunia fana ini dengan mencapai moksa (mukti). Empu Kuturan adalah Maha Rsi yang besar jasanya di Bali.

RSI/EMPU BHARADAH
Sedangkan Empu Bharadah, adik dari Kuturan namanya harum dalam tulisan-tulisan sejarah keagamaan. Beliau sendiri pernah ke Bali. Hal ini dapat dibuktikan dengan disebutnya nama Empu Bharadah pada batu bertulis yang terdapat di Pura Batumade di Besakih tahun 1007.

Empu Bharadah terkenal pengetahuannya yang meliputi tiga jaman yakni yang telah lewat, jaman sekarang dan jaman yang akan datang. Dalam prasasti yang terdapat dalam arca Mahakshobhya di Simpang Surabaya disebutkan antara lain “Yang Mulia Bharadah, Mahaguru dari para pertapa dan para bijaksana yang terbaik yang dijaman bahari melalui latihan pengalaman mendapatkan pengetahuan yang sempurna dan mendapatkan Abhijana yaitu pengetahuan yang Parama”.

Empu Bharadah adalah Mahaguru dari para Yogin yang besar yang bebas dari keletehan yang diakibatkan dari ikatan duniawi.

Dalam cerita Calon Arang, namanya kadang-kadang disingkatkan disebut Empu Pradah. Bukankah beliau ini yang terkenal dalam sejarah membuat Negara Daha dan Kediri? Sekianlah tentang kebesaran dua empu bersaudara ini yang sudah mencapai tingkat Rsi.

RSI MARKANDEYA
Mengenai Rsi Markandeya ialah bahwa Rsi Markandeya adalah orang yang pertama sekali datang ke Bali untuk menyebarkan Agama Hindu.

Kedatangan yang pertama dengan rombongannya kurang lebih 400 orang, gagal, karena pengikut-pengikutnya diserang wabah penyakit. Akhirnya pada kedatangan yang kedua dengan rombongan kurang lebih 2000 orang, berhasillah untuk menduduki Bali melalui sungai Wos (Campuan, Ubud), akhirnya tibalah di suatu hutan. Hutan itu dirabas dijadikan sawah dan dibagi-bagikan kepada rombongannya, lalu tempat itu dinamai desa Sarwada. Sekarang dinamai desa Taro. Di Pura Taro ini didapatkan prasasti yang menerangkan kebesaran jiwa Rsi Markandeya dan usahanya untuk memakmurkan kehidupan rakyat umat Hindu di Bali.

DANG HYANG DWIJENDRA
Anakku, di jaman dulu, di Kerajaan Majapahit, Jawa Timur, muncullah seorang Rsi yang sangat terkenal. Dang Hyang Dwijendra gelar beliau. Beliau sangat dihormati oleh rakyat karena kebesaran pengabdian memberikan kesejahteraan rohaniah dan mengatasi kesengsaraan hidup. Beliau banyak melakukan dharmayatra (perjalanan keagamaan). Dharmayatra ini dilakukan di Jawa Timur, Bali, Lombok dan Sumbawa. Di Bali sangat limbak Dharmayatra beliau dan beliau di Bali dikenal dengan gelar Pedanda Sakti Wawu Rauh atau Dang Hyang Nirartha. Di Sumbawa dikenal dengan sebutan Tuan Sumeru dan di Lombok disebut Pangeran Sangupati. Di Jawa yaitu di Pasuruan dan Blambangan beliau juga meninggalkan keturunan sebagaimana halnya di Bali, beliau menurunkan pendeta-pendeta yang ada di Bali.

Ketika Dharmayatra Dang Hyang Nirartha di Bali yang berkuasa waktu itu adalah raja Watu Renggong. Raja ini menyambut kedatangan beliau dengan gembira dan sangat hormat. Dharmayatra beliau di Bali benar-benar mengesankan memperkokoh Dharma, dan banyak pura-pura didirikan oleh beliau pada waktu itu, untuk membangkitkan kesadaran beragama. Pura-pura itu antara lain Pura Purancak, Pulaki, Rambut Siwi, Batu Kelotok, Masceti, Ulu Watu dan lain-lainnya. Hasil karya beliau dalam kesusastraan antara lain Sunarigama, Dharma Sunya, Jong beru dan lain-lain.

Beliau meninggalkan dunia ini dengan mencapai kemoksaan di Ulu Watu. Bagi Beliau dibuatkan sebuah Pelinggih sebagai tanda peringatan dari rakyat di tempat itu juga. Pura itu sampai kini menjadi salah satu pusat tempat persembahyangan yang utama bagi umat Hindu.

Adapun pura=pura yang mempunyai hubungan kehidupan Beliau ialah antara lain:
a. Pura Purancak dan Rambut Siwi (Negara)
b. Pulaki dan Ponjok Batu (Singaraja)
c. Tanah Lot (Tabanan)
d. Peti Tenget dan Ulu Watu (Badung)
e. Air Jeruk (Gianyar)
f. Batu Klotok (Klungkung).

RSI/DANGHYANG ASTHAPAKA
Beliau adalah seorang pendeta Buddha Mahayana yang datang ke BAli dari Majapahit. Beliau menyeberang dari Blambangan dengan jukung menuju ke daerah Bali Timur. Di perjalanan beliau singgah dan menginap di pulau Serangan (Selatan pulai Bali) di tempat mana kemudian didirikan sebuah Pura bernama Pura Sakhyana yang berarti “tempat Sakhyamuni atau Buddha”, yang kini terkenal dengan nama Pura Sakenan. Dari pulau itu beliau melanjutkan pelayaran ke arah timur dan akhirnya menetap di suatu daerah bukit di Bali Timur (Karangasem) yang kini bernama Budha Keling.

Published in: on 23 July 2009 at 5:43 pm  Leave a Comment  
Tags: ,

The URI to TrackBack this entry is: https://taksu.wordpress.com/2009/07/23/rsi-vedic-dharma/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: