Pustaka Suci (Sastra Dharma)

Sang Suyasa:
Sungguh sangat berbahagia hamba dapat mendengarkan perihal kehidupan para rsi-rsi, orang suci kita yang hidupnya selalu membawa kesucian dan kedamaian di hati umat manusia.

Tetapi Gurunda, hamba ingin mengetahui juga sedikit-sedikit mengenai pustaka suci kita. Mohon diberi uraian perihal ini.

Rsi Dharmakerti:
Setelah kita berbicara mengenai orang-orang suci sudah wajar jika sekarang kita berbicara perihal pustaka-pustaka suci. Dengarkanlah baik-baik anakku.


Ketahuilah bahwa pustaka suci Agama Hindu itu ialah Weda, yaitu pengetahuan suci maha sempurna kekal abadi mengenai Sang Hyang Widhi serta perintah-perintahnya. Istilah Weda berasal dari kata Sansekerta “Wid” yang berarti Ilmu Pengetahuan Suci.

Jadi Weda adalah ilmu pengetahuan suci yang berasal dari Sang Hyang Widhi yang didengarkan oleh Maharsi-Maharsi dalam keadaan semadi. Oleh karena itu juga disebut Sruti yang berari Sabda Suci yang didengarkan. Kata Sruti berasal dari kata Sanskerta “Sru” yang berarti “mendengar”. Pustaka suci Sruti terbagi dalam 4 bagian sehingga disebut Catur Weda, yaitu:

a. Rig Weda
b. Yajur Weda
c. Sama Weda
d. Atharwa Weda

Termasuk di dalamnya Upanisad-Upanisad yang memuat ajaran-ajaran filsfat Agama Hindu. Lain dari pada itu termasuk juga Bhagawad Gita, Weda Parikrama, Kamahayanikan. Tetapi anakku ajaran-ajaran suci yang terdapat dalam Weda-Weda itu sangatlah banyaknya sehingga diperlukan cara-cara tertentu untuk menerapkan pada masyarakat, pada khalayak ramai yang tingkat pemikirannya belum tinggi, jika diberi ajaran langsung d ari Weda pasti mereka tidak mengerti, tetapi namun demikian mereka tak boleh ditinggalkan, mereka harus juga dituntun jiwanya. Oleh karena itulah maka Weda-Weda itu diajarkan melalui saluran pustaka suci tingkat kedua, yaitu:

a. SMERTI
b. PURANA
c. ITIHASA

SMERTI artinya ajaran-ajaran suci yang patut dan dapat diingat selalu. Kata ini berasal dari kata Sansekerta “SMR” artinya “ingat”. Yang dimaksud ialah bahwa Maharsi-Maharsi menyampaikan ajaran-ajaran Weda Sruti dalam bentuk sutra yang mudah diingatkan. Ini meliputi kewajiban yang harus dilaksanakan dalam kehidupan manusia dalam mencari kesempurnaan.

Contohnya antara lain:
a. MANU SMERTI
b. SARASAMUSCAYA

Sedangkan Purana adalah pustaka-pustaka yang memuat ajaran-ajaran suci dalam bentuk cerita-cerita dan perumpamaan-perumpamaan untuk memudahkan penerapan dari pengertian yang tinggi di dalam bentuk kehidupan sehari=hari dan bagi mereka yang tingkat pikirannya belum tinggi.

Itihasa adalah memuat cerita-cerita sejarah kepahlawanan yang memuat lakon yang menarik dan melalui cerita-cerita ini dimasukkan ajaran-ajaran suci yang terdapat dalam sruti atau smerti. Pustaka ini ialah antara lain Wiracarita RAMAYANA dan MAHABHARATA

Di samping pustaka-pustaka di atas ada lagi yang terkenal di seluruh dunia yang bernama Bhagawad Gita. Isi Bhagawad Gita terdapat dalam Wiracarita Mahabharata, bagian dari Bhismaparwa ialah mengisahkan peperangan di Kuruksetra, di mana Sang Hyang Widhi (Wisnu) turun ke dunia berwujud Sri Bhagawan Krsna mengajarkan ajaran-ajaran (dharma) kepada Arjuna. Initinya ialah:

Berbuatlah dengan tulus ikhlas tanpa pamrih sesuai dengan kewajiban dan menyerahkan hasilnya kepada Tuhan (Sang Hyang Widhi) yang Maha Esa.

Bhagawad Gita juga disebut Weda yang kelima karena Sang Hyang Widhi langsung mengajarkan kembali pengetahuan suci Weda pada waktu dunia menderita adharma. Jika Bhagawad Gita merupakan kumpulan sari-sari Weda Sruti yang terkenal maka kumpulan sari Smerti dan Itihasa yang terkenal ialah Sarasamuscaya yang dikumpulkan oleh Rsi Wararuci yang merupakan intisari dari pada Mahabharata yang memuat segi-segi tata susila dan pendidikan keagamaan.

Semua pustaka-pustaka ini disebut suci, anakku, karena memuat ajaran-ajaran kesempurnaan yang kekal dan abadi yang diturunkan oleh Sang Hyang Widhi demi untuk kesucian jiwa dan kedamaian hidup. Kita tidak usah terlalu terjelimet dalam persoalan waktu kapan pustaka-pustaka itu disusun dan dimana diwahyukan dan lain sebagainya. Ketahuilah anakku, bahwa pengetahuan suci itu mengatasi waktu dan tempat. Ia kekal abadi dan universil sifatnya, tidak untuk jaman dahulu saja dan tidak pula untuk golongan tertentu saja, tetapi ia merupakan kepunyaan umat manusia yang mencari kesempurnaan hidup, kedamaian atas dasar cinta suci. Oleh karena itulah sudah menjadi kewajiban kita yang mutlak untuk memuliakan, mempertahankan dan mengamalkan ajaran-ajaran suci itu.

Published in: on 23 July 2009 at 5:48 pm  Leave a Comment  
Tags: ,

The URI to TrackBack this entry is: https://taksu.wordpress.com/2009/07/23/pustaka-suci-sastra-dharma/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: