Punarbhawa atau Samsara

Sang Suyasa:
Kiranya sudah jelas bagi hamba perihal Hukum Karma Phala itu apalagi setelah Gurunda jelaskan bagaimana dinamisnya Hukum Karma Phala itu yang merupakan cambuk bagi kita manusia untuk selalu berbuat baik. Bagaimanakah Gurunda ajaran Punarbhawa sebagai Sradha ke empat dari Panca Sradha?

Rsi Dharmakerti:
Baiklah, Guru akan terangkan perihal Punarbhawa atau Samsara itu. Kata Punarbhawa terdiri dari dua kata Sansekerta yaitu Punar (lagi) dan Bhawa (menjelma). Jadi Punarbhawa ialah “kelahiran yang berulang-ulang” yang disebut juga Penitisan atau Samsara. Dalam Pustaka Suci Weda tersebut “Penjelmaan jiwatman yang berulang-ulang (samsriti) di dunia ini atau di dunia yang lebih tinggi disebut Samsara”. Kelahiran yang berulang-ulang di dunia ini membawa akibat suka duka. Punarbhawa atau Samsara ini terjadi oleh karena jiwatman masih dipengaruhi oleh kenikmatan dan kematian akan diikuti oleh kelahiran”.


Di dalam Bhagavad Gita, Sang Krsna mengatakan “Wahai Arjuna, kamu dan aku telah lahir berulang-ulang sebelum ini, hanya aku yang tahu sedangkan kamu idak; kelahiran sudah tentu akan diikuti oleh kematian dan kematian akan diikuti oleh kelahiran”.

Jadi anakku, kita telah ketahui bahwa segala perbuatan ini menyebabkan adanya bekas (wasana) dalam jiwatman. Dan bekas-bekas perbuatan (karmawasana) itu ada bermacam-macam. jika bekas-bekas itu hanya bekas-bekas keduniawian, maka jiwatman akan lebih cenderung dan gampang ditarik oleh hal-hal keduniawian sehingga jiwatman itu lahir kembali. Umpamanya jiwa pada waktu mati ada bekas-bekas hidup mewah pada jiwatman, di akhirat jiwatman itu masih punya hubungan dengan kemewahan hidup, sehingga gampang jiwatman itu ditarik kembali ke dunia. Kalau tidak ada bekas apa-apa lagi pada jiwatman, sehingga tidak ada lagi yang menariknya ke dunia fana ini, ia terus bersatu dengan Sang Hyang Widhi Wasa, jiwatman sadar akan hakekatnya sebagai atman yang sama dengan Sang Hyang Widhi Wasa dan mencapai tujuan terakhir yang dinamai Moksa. Tetapi walaupun tujuan mutlak manusia adalah moksa yaitu tidak lahir kembali, namun kelahiran kita ke dunia ini sebagai manusia adalah suatu kesempatan untuk meningkatkan kesempurnaan hidup guna mengatasi kesengsaraan ini.

Hal ini diuraikan berkali-kali dalam pustaka Sarasamuscaya. Malah dikatakan Dewapu perlu lahir sebagai manusia dulu untuk dapat mencapai kebebasan abadi (nirwana). Memang kehidupan dalam dunia ini tidak sedikit kesukaran-kesukaran dan penderitaan-penderitaan yang disebabkan oleh perbuatan sendiri (prarabda karma) ataupun perbuatan dalam kehidupan yang lebih dahulu (sancita karma), namun dmeikian berbahagialah orang yang dapat menitis menjadi manusia karena dapat kesempatan atas kesadaran yang suci, berbuat yang lebih baik (subha karma) untuk menentukan hasil baik yang akan datang. Karena hanya di dunia inilah kita dapat kesempatan untuk melakukan perbuatan guna meningkatkan kesempurnaan diri kita itu sedangkan di dalam dunia lain kita hanya menerima pahalanya, menurut pustaka Sarasamuscaya. Dan penitisan (Punarbhawa) ini akan berakhir setelah manusia dapat menyadarkan dan mewujudkan sifat Atmanya yang sebenarnya yaitu suci, abadi dan sempurna. Pada tingkatan inilah orang bebas dari ikatan dunia dan mencapai moksa, tidak menitis kembali ke dunia.

Sang Suyasa:
Gurunda, semua hal yang Gurunda uraikan adalah berdasarkan kepercayaan saja. Hal ini tentu memerlukan hal-hal yang positif untuk mendasarinya. Adakah hal-hal itu pada agama kita?

Rsi Dharmakerti:
Anakku, Guru sangat gembira mendengar pertanyaan itu yang menandakan bahwa anakku sudah berpikir tajam. Justru pikiran beginilah yang diperlukan adlam mempelajari agama kita, agar dapat dimengerti dan dirasakan sehingga sampai mendarah daging. Anakku, keyakinan akan kebenaran. Penitisan ini menimbulkan:
a. Adanya Pitra Yadnya, memberikan korban suci terhadap leluhur kita, karena kita percaya leluhur kita itu masih hidup di dunia yang lebih halus.
b. Pelaksanaan-pelaksanaan punia, karena kita percaya bahwa perbuatan ini membawa kebahagiaan setelah meninggal.
c. Berusaha melenyapkan semua perbuatan yang tidak baik (papa atau asubha karma) karena jika tidak, akan membawa kita ke alam neraka, sebagai phala karma yang pasti kita terima pada waktu hidup ini atau pada waktu penjelmaan yang akan datang.

Bahwa kita mengalami kelahiran dalam hidup yang mendahului hidup ini dapat ditunjukkan sebagai contoh kenyataan umpamanya:
a. Rasa takut manusia menghadapi kematian, adalah suatu pertanda bahwa sudah banyak penderitaan yang dialami pada saat-saat matinya dalam kehidupannya yang sudah-sudah.
b. Kesediaan si bayi yang sejak baru lahir untuk menetek susu ibunya menandakan suatu pengalaman yang pernah dialami pada kehidupannya yang sudah-sudah.
c. Kenyataan bahwa lahirnya manusia dengan berbagai-bagai kegemaran dan tidak dapatnya diteliti sebab-sebab dari kegemaran itu dalam kelahirannya eskarang ini maka itu menunjukkan adanya pengalaman-pengalaman di dalam kehidupannya yang sudah-sudah yang tak dapat diingatkan lagi sebagai sumbernya.

Published in: on 23 July 2009 at 5:29 pm  Leave a Comment  
Tags: ,

The URI to TrackBack this entry is: https://taksu.wordpress.com/2009/07/23/punarbhawa-atau-samsara/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: