Hari Suci

Rsi Dharmakerti:
Anakku, sudah payahkah anakku mendengarkan uraian-uraian guru?

Sang Suyasa:
Oh, tidak Gurunda, bukan payah tetapi makin tertarik hamba mendengarkannya karena betul-betul merupakan penerangan baru bagi diri hamba. Malah hamba takut Gurunda sendiri yang telah merasa payah atau jemu memberikan uraian.

Rsi Dharmakerti:
Ketahuilah anakku, bahwa kenikmatan hidup seorang Guru ialah pada waktu memberi pelajaran perihal kebenaran. Sebagai halnya kenikmatan seorang Perwira pada waktu berperang demi kebenaran. Walaupun Guru sudah tua, tetapi malah merasa bertambah muda dapat berbicara dengan seorang yang tekun seperti anakku ini. Baiklah akan Guru teruskan sekarang perihal hari-hari suci.


Hari suci yang dirayakan oleh umat beragama Hindu yang penting ialah Nyepi (Tahun Baru), Siwaratri, Saraswati, Pagerwesi, Galungan, Kuningan. Di antara hari-hari suci hari raya Nyepi, Siwaratri dan Saraswati dirayakan di seluruh dunia di mana saja umat Hindu berada.

HARI NYEPI
Hari Nyepi jatuh sehari sesudah Tileming ke IX (kesanga) yaitu pada penanggal 1 sasih ke X (kedasa).
Pada Tileming ke IX (kesanga) atau pada bulan mati sekitar bulan Maret yaitu peralihan pergantian tahun isaka (Isakawarsa) adalah hari Pengerupukan namanya, diadakan upacara bhuta yadnya untuk menghilangkan unsur-unsur kejahatan yang merusak kesejahteraan umat manusia.

Sedangkan pada hari Penyepian tersebut di atas melakukan amati geni, untuk mengadakan samadhi – pembersihan batin dari segala dosa serta menerima anugrah kekuatan dan sinar baru untuk perjuangan selanjutnya dalam tahun-tahun berikutnya. Karena pada waktu sepilah kita akan berhasil memawas diri, menyatukan pikiran dan mengumpulkan kekuatan rohani berdasarkan kesucian. Pada keesokan harinya waktu Ngembak Geni umat saling maaf memaafkan antara sesama hidup dan menghilangkan nafsu-nafsu yang rendah antara lain tidak berjudi, tidak berfoya-foya dan lain-lain.

HARI SIWARATRI
Siwaratri anakku berarti “malam renungan suci” atau “Malam Peleburan Dosa” untuk memperoleh pengampunan dari Sang Hyang Widhi atas dosa yang dilakukan oleh awidya (kegelapan/kebodohan). Dilakukan semalam suntuk pada waktu purwanining tilem ke VII (Kepitu) sehari sebelum bulan mati sekitar bulan Januari, dengan menjalankan yoga semadi atau membaca-baca pustaka suci dan berpuasa.

Cerita mengenai Siwaratri terdapat dalam pustaka Lubdhaka karangan Empu Tanakung.

HARI SARASWATI
Saraswati adalah hari raya untuk memuja Sang Hyang Widhi dalam kekuasaannya menciptakan ilmu pengetahuan dan ilmu kesucian. Hari raya ini dirayakan tiap-tiap 6 bulan (210 hari) sekali yaitu pada hari Sabtu Umanis Wuku Watugunung dilakukan dengan memuja Sang Hyang Widhi dengan pembacaan dan renungan isi ajaran pustaka suci. Kekuatan Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya ini dilambangkan dengan seorang Dewi yang membawa alat musik, genitri, pustaka suci, teratai serta duduk di atas angsa. Arti simbol ini ialah:
a. Dewi, ialah simbol kekuatan yang indah, menarik, lemah lembut dan mulia yang merupakan sifat dari ilmu pengetahuan.
b. Alat musik, ialah simbol dari seni budaya yang agung.
c. Genitri, ialah simbol dari kekekalan dan tak terbatasnya ilmu pengetahuan
d. Pustaka Suci, ialah simbol dari ilmu pengetahuan suci
e. Teratai, ialah simbol dari kesucian Sang Hyang Widhi
f. Angsa, ialah simbol dari kebijaksanaan untuk membedakan antara baik dan buruk. Karena hanya angsalah yang dapat memisahkan air dengan minyak atau air dengan lumpur sehingga jika ia minum hanya air-airnya sajalah yang ditelannya. Juga angsa merupakan perlambang kekuasaan di ketiga dunia (tri loka: Bhur, Bhuah, Swah) karena ia bergerak di tiga unsur alam yaitu di air, di darat maupun di udara.

Anakku, selain dari ketiga hari suci di atas yang dirayakan di seluruh dunia, ada juga yang lainnya umpamanya pagerwesi.

HARI PAGERWESI
Pagerwesi adalah pemujaan Sang Hyang Widhi dengan perbawanya sebagai Sang Hyang Paramesti Guru yang sedang beryoga untuk kesentosaan alam ciptaannya dengan diiringi oleh para Dewa. Pitara-pitara. Umat menyucikan diri untuk dapat menerima kekuatan sinar suci dari payogaan itu demi kebahagiaan dan kesentosaan hidupnya. Hari Pagerwesi jatuh tiap 6 bulan (210 hari) sekali pada hari Rebo Kliwon Sinta.

Jadi hari Pagerwesi adalah hari menguatkan jiwa dalam penyucian diri untuk dapat menerima kemuliaan sinar payogaan Sang Hyang Paramesti Guru (Sang Hyang Widhi), Tuhan Maha Pencinta.

HARI GALUNGAN
Galungan adalah hari Pawedalan Jagat yaitu pemujaan bahwa telah terciptanya jagat dengan segala isinya oleh Sang Hyang Widhi. Hari ini muncul tiap-tiap 6 bulan (210 hari) sekali yaitu pada hari Rebo Kliwon Wuku Dungulan. Persembahan dan pemujaan terhadap Sang Hyang Widhi dilakukan dengan penuh kesucian dan ketulusan hati, memohon kebahagiaan hidup dan agar dapat menjauhkan diri dari awidya. Galungan adalah perlambang perjuangan antara yang benar (dharma) melawan yang tidak benar (adharma) dan juga sebagai pernyataan terima kasih atas kemakmuran dalam alam yang diciptakan Tuhan ini.

Disamping itu hari raya digunakan pula untuk menyatakan terima kasih dan rasa bahagia atas kemurahan Sang Hyang Widhi yang dibayangkan telah sudi turun diiringi oleh para Dewa-Dewa dan Pitara ke Dunia. Sehari sebelum Galungan yang pada hari Anggara Wage Dungulan dinamai hari Penampahan, mulai saat mana segala nafsu harus dihilangkan dari badan sebelum menyambut hari suci besoknya. MAnusia dilahirkan dalam keadaan awidya (kegelapan), yaitu sifat nafsu murka, iri hati, congkak, angkara. Semua sifat ini disimbulkan sebagai Sang Kala Tiga atau kejahatan yang Tiga, diberi gelar sang Bhuta Galungan, Bhuta Dungulan, Bhuta Amangkurat. Kesadaran umat akan kekuatan suci dibangunkan dengan “abyakala” yaitu upacara penyucian diri dari kegelapan atau Kala Tiga itu. Bagi para sujana pada malam hari Galungan dilakukan yoga semadi, mohon karunia Sang Hyang Widhi. Pada esok harinya sesudah Galungan pada Kamis Umanis Dungulan, umat bersama-sama menikmati sisa sajian (yadnya sesa) yaitu karunia Guru Sejati (Sang Hyang Widhi) dengan melakukan pensucian dan persembahyangan di rumah masing-masing pada waktu fajar baru menyingsing dengan air wangi (kumkuman) dan air suci (tirta). Setelah selesai lalu umat bersama-sama kunjung-mengunjungi, beramah tamah, saling mendoakan keselamatan.

Yang istimewa dalam hari raya Galungan ini ialah dipancangkannya “penjor” (bambu berhias) di setiap rumah sebagai tanda terima kasih atas kemakmuran yang dilimpahkan Tuhan. Bambu tinggi melengkung adalah gambaran dari gunung yang tertinggi sebagai tempat yang suci. Hiasan yang terdiri dari kelapa, pisang, tebu, padi, jajan dan kain adalah merupakan wakil dari seluruh tumbuh-tumbuhan dan benda sandang pangan yang dikaruniai Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang kepada kita manusia.

HARI KUNINGAN
Hari Kuningan muncul setiap 6 bulan (210 hari), sepuluh hari setelah lewatnya Galungan, yaitu pada hari Saniscara (Sabtu) Kliwon Wuku Kuningan, yaitu hari kembalinya Sang Pitara bersama para Dewa di mana umat menghaturkan bahkti memohon kesentosaan dan kedirghayusaan (panjang umur) serta perlindungan dan tuntunan lahir batin selalu. Upacara hari raya Kuningan harus sudah selesai sebelum tengah hari.

Published in: on 23 July 2009 at 5:52 pm  Leave a Comment  
Tags: ,

The URI to TrackBack this entry is: https://taksu.wordpress.com/2009/07/23/hari-suci/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: