Atma Tatwa

Sang Suyasa:
Gurunda, setelah menengar segala uraian tadi, ijinkanlah hamba menyatakan kehausan hamba yang sangat. Betul-betul hamba masih hasu dengan ajaran agama kita yang demikian luas dan mendalamnya yang selama ini belum pernah hamba dengar. Betapa tidak tertunduk hati kita mendengarkan bagaimana para leluhur kita mengetahui evolusinya alam semesta mulai dari unsur atom yang terkecil (pramana anu) dari srsti-pralaya ke srsti-pralaya dari penciptaan ke penciptaan dari kiamat ke kiamat. Dan dengan cinta kasihnya Sang Hyang Widhi melaksanakan proses ini berdasarkan pengorbanan suci atau yadnya.


Terima kasih, Gurunda atas penjelasan-penjelasan itu. Dan ini menyebabkan hamba ingin lebih mengetahui apa-apa yang terpendam di dalam agama kita. Gurunda, jika tadi telah jelas perihal Widhi Tatwa, bolehkah hamba menanyakan sekarang perihal Atma Tatwa sebagai Sradha kedua dari Panca Sradha?

Rsi Dharmakerti:
Memang tepat apa yang anaknda tanyakan itu. Setelah Widhi Tatwa sekarang Guru hendak terangkan perihal Atma Tatwa. Nah, dengarkanlah!

Atma adalah merupakan percikan-percikan kecil dari Parama Atma yaitu Sang Hyang Widhi Wasa yang berada di dalam mahluk hidup. Atman di dalam badan manusia disebut Jiwatman yaitu yang menghidupkan manusia. Atma dengan badan ini adalah sebagai kusir dengan kereta. Kusir adalah atman yang mengemudikan dan kereta adalah badan. Demikian atma itu menghidupkan sarwa prani (mahluk) di alam semesta ini. Indria tak dapat bekerja bila tak ada Atman. Misalnya telinga tak dapat menedngar, bila tak ada Atmanya, mata tak dapat melihat bila tak ada Atmanya, kulit tak dapat merasakan bila tak ada Atmanya dan seterusnya. Jadi kiranya sudah jelas bahwa Atman itu berasal dari Sang Hyang Widhi sebagai Sang Matahari dengan sianr-sinarnya. Sang Hyang Widhi sebagai matahari dan atma-atma sebagai sinar-sinarnya yang terpencar memasuki dalam hidupnya semua mhluk. Atau dapat diumpamakan Widhi atau Brahman itu sebagai sumber tenaga listrik yang dapat menghidupkan setiap bola lampu besar atau kecil di manapun ia berada. Dalam hal ini bola lampu dapat diumpamakan sebagai tubuh setiap mahluk dan aliran listriknya adalah atman. Jika bola lampunya rusak, lampu tidak akan menyala (mati) walaupun aliran listriknya masih tetap.

Adapun sifat-sifat atman itu, antarala lain menurut Bhagavad Gita (II, 24, 25):
achodya (tak terlukai oleh senjata),
adahya (tak terbakar oleh api),
akledya (tak terbasahkan oleh air),
nitya (abadi),
sarwagatah (di mana-mana ada),
sthanu (tak berpindah-pindah),
acala (tak bergerak),
sanatana (selalu sama),
awyakta (tak dilahirkan),
achintya (tak terpikirkan),
awikara (tak berubah) dan sempurna tidak laki-laki ataupun perempuan.

Memang Atman itu sempurna, anakku, tetapi manusia itu tidaklah sempurna walaupun yang menghidupi adalah Atma. Tentu anakku ingin mengetahui sebab-sebabnya. Itu tak lain karena persatuan atma dengan badan menimbulkan awidya (kegelapan). Jadi manusia lahir dalam keadaan awidya, yang menyebabkan ketidaksempurnaannya. Atman itu tetap sempurna, tetapi manusia itu sendiri tidaklah sempurna. Bukan saja tidak sempurna tetapi juga bisa mati. Ya, Anakku, setiap manusia tidak luput dari hukum kematian. Tetapi walaupun manusianya mati namun atman itu tidak akan bisa mati. Hanya badan yang mati dan hancur sedangkan atman kekal. Badan berpisah dengan jiwanya pada waktu manusia mati, dan jiwatman (atma-budhi-manas) yang tidak mati itu mengalami sorga atau neraka, sesuai dengan perbuatan baik atau buruknya (suba asubha karma). Tetapi jiwatma itu tidak menetap di sana untuk selama-lamanya. Ia akan punarbhawa atau lahir kembali mengambil wujud baru sesuai dengan karma phalanya. Dan bukan sekali saja, tapi lahir berulang kali. Penjelmaannya terus lanjut, sampai manunggal kepada Sang Hyang Widhi sampai jiwatma sadar akan hakekat dirinya sendiri sebagai atma lengkap dengan sifat-sifatnya seperti tersebut di atas, sampai jiwatma melepaskan diri dari ikatan duniawi yaitu moksa mencapai kebahagiaan dan kedamaian abadi.

Published in: on 23 July 2009 at 5:19 pm  Leave a Comment  
Tags:

The URI to TrackBack this entry is: https://taksu.wordpress.com/2009/07/23/atma-tatwa/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: