Moksa

Sang Suyasa:
Gurunda dengan penjelasan di atas, hati hamba bertambah terang dan gembira mendengarkannya, karena ternyata agama kita meliputi seluruh bidang kehidupan.

Rsi Dharmakerti:
Guru gembira akan pendapat anaknda itu karena dengan ini nyata anaknda mempunyai minat. Tetapi yang perlu ialah pelaksanaannya yang mantap untuk kesejahteraan umat, untuk jagadhita.

Ingatlah ucapan Weda ini:

Moksartham jagadhitaya ca iti dharmah

bahwa tujuan agama (dharma) kita adalah untuk mencapai moksa (moksa artham) dan kesejahteraan umat manusia (jagadhita).

Moksa berarti kebebasan dari ikatan keduniawian, bebas dari karmaphala, bebas dari Samsara, Moksa akan tercapai bukan saja setelah manusia mengakhiri hidupnya di dunia ini, tetapi di dalam dunia inipun moksa itu dapat dicapai. Hanya dicapainya ialah bila sudah bebas dari ikatan-ikatan keduniawian. Keadaan ini disebut jiwan-mukti atau moksa semasih hidup, sebagai halnya Prabhu Janaka dan lain-lain Maharsi, yang telah bekerja tanpa pamrih memberi kesejahteraan pada dunia. Caranya ialah dengan jalan berbakti kepada Dharma dalam arti yang seluas-luasnya untuk mendapatkan waranugraha Sang Hyang Widhi misalnya dengan melakukan Catur Yoga dengan teguh.

Sang Suyasa:
Apa yang disebut Catur Yoga itu, Gurunda?

Rsi Dharmakerti:
Catur Yoga ialah empat (catur) cara mencari kesatuan (yoga) dengan Sang Hyang Widhi yaitu:

a. Jnana Yoga
b. Bhakti Yoga
c. Karma Yoga
d. Raja Yoga

Artinya berturut-turut ialah menyatukan diri dengan Sang Hyang Widhi (moksa) dengan cara mengabdikan pengetahuan (jnana) atau dengan melakukan kebaikan dan kesujudan yang tulus dan terus menerus (bahkti) atau dengan melakukan perbuatan-perbuatan mulia dan bermanfaat tanpa pamrih (karma) atau dengan melakukan brata, tapa, yoga sampai samadhi (raja).

Anaknda, semua cara ini diatur sedemikian rupa setelah disesuaikan dengan kepribadian, watak dan kesanggupan manusia. Jika seseorang itu kesanggupannya terletak pada mencari ilmu pengetahuan dan ilmu kesucian maka ajaran Jnana Yoga-lah yang seyogyanya dipakai. Jika seseorang itu mempunyai watak yang halus dan perasa serta mempunyai ketekunan dalam memuja Sang Hyang Widhi, maka cara Bhakti Yoga-lah yang patut dipakainya. Demikian juga yang otak serta kesanggupannya terletak pada kerja serta pengabdian yang tulus tanpa pamrih maka ajaran Karma Yoga-lah yang harus dijalaninya. Sedangkan orang yang tekun dalam samadhi, kuat dalam tapa brata serta tidak dapat dipengaruhi oleh hal-hal yang bertentangan yang ada dalam hidup ini, maka cara Raja Yoga-lah yang cocok baginya.

Anaknda, walaupun cara-cara ini berjumlah empat tetapi tidak ada yang lebih tinggi maupun yang lebih rendah. Semuanya baik dan utama tergantung pada bakat masing-masing. Dan jalan yang satu berhubungan erat dengan yang lainnya.Semuanya akan mencapai tujuannya, asal dilakukan dengan tulus ikhlas, ketekunan, kesujudan, keteguhan iman dan tanpa pamrih.

Tanpa pamrih yang Guru maksudkan ialah melakukan perbuatan-perbuatan atas dasar kesucian dengan penuh keikhlasan demi kesejahteraan umum dengan tidak mengharapkan hasilnya untuk kepentingan diri sendiri (rame ing gawe sepi ing pamrih).

Ini terutama dipakai dasar oleh orang-orang yang mengikuti cara Karma Yoga. Contohnya di dalam Bhagavad Gita (II, 47) Krsna menasehati Arjuna yang ragu-ragu akan kewajibannya dengan berkata:

Kewajibanmu hanyalah bekerja dan bukan pada hasil dari karyamu. Janganlah bekerja dengan keinginan menikmati hasilnya dan jangan pula tidak mau bekerja sama sekali.

Artinya, bahwa kita harus bekerja. Tidak boleh tidak bekerja, tetapi di dalam itu harus tidak menginginkan keuntungan atau kerugian atas diri sendiri. Kalau itu sudah menjadi kewajiban, lakukanlah. Dan kewajiban kita untuk masyarakat memang banyak sekali, anakku. Misalnya membuat tempat peribadahan umum, rumah sakit, sekolah-sekolah, balai masyarakat, bendungan, jalan-jalan dan lain-lainnya.

Sang Suyasa:
Gurunda, hamba ingin menanyakan lebih lanjut bagaimana keadaan Atman di dalam tingkatan moksa itu?

Rsi Dharmakerti:
Baiklah anakku. Dengarkanlah:

Setelah manusia lepas dari ikatan keduniawian, jiwatman tidak kembali ke dunia. Serentak Atman menyelubungi diri jadi jiwatman yang dipengaruhi dan diombang ambingkan oleh Anatman (bukan atman) maka timbullah awidya. Atman bersatu dengan Sang Hyang Widhi serta mengalami kebenaran, kesadaran, kebahagiaan yang kekal abadi atau “sat cit ananda” dalam bahasa Sanskerta-nya. Sat artinya kebenaran. Cit, artinya kesadaran yang langgeng dan Ananda berarti kebahagiaan abadi.

Atau dalam bahasa Kawi biasa disebut “suka tan pawali dukha“, yaitu kebahagiaan yang tidak disusul oleh kedukaan; Atman dalam keadaan begini manunggal dengan Sang Hyang Widhi dan tidak setiap orang boleh menyatakan “Brahma asmi” atau “Aku adalah Sang Hyang Widhi”. Sebagai Guru sudah katakan tadi bahwa serentak

Atman bertemu dengan badan atau benda duniawi maka ia menjadi awidya. Ini diakibatkan karena dipengaruhi oleh Satwa-Rajas dan Tamas (Triguna). Hanya Atman yang bebas dari pengaruh Triguna ini (Prakrti) yang dapat manunggal dengan Sang Hyang Widhi dan ini dapat dicapai melalui tingkat yang tertinggi yaitu Satvam. Untuk menyadarkan umat akan keadaan diri serta tujuan hidupnya yang sebenarnya yaitu Moksa, maka Sang Hyang Widhi suatu waktu mengambil perujudan ke dunia untuk menolong umat menegakkan Dharma. Perwujudan ini disebut Awatara.

Published in: on 23 July 2009 at 5:34 pm  Comments (1)  
Tags: ,

The URI to TrackBack this entry is: https://taksu.wordpress.com/2009/07/23/80/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentLeave a comment

  1. terima kasih keren bngt


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: