Perlunya studi Perbandingan Agama-agama

Swamiji: Ada sekitar sebelas agama di dunia ini, yang bisa Anda sebut sebagai agama-agama besar: Hinduisme, Buddhisme, Jainisme, Sikhisme, Zoroastrianisme, Judaisme, Kristen, Islam, Taoisme, Konfusianisme, Shintoisme. Ada pula sekte-sekte minor yang tidak perlu dianggap sebagai agama-agama, disamping subdivisi seperti Sufisme (mistikisme Islam) dan Kristen mistikal. Semua ini harus dipelajari untuk mengerti pola-pola ganda dari pendekatan religius umat manusia dan  perjuangannya guna mengetahui Realitas Tertinggi. Semua agama adalah baik, tapi mereka kelihatan sangat lucu manakala mereka membandingkan dan mengkontraskan diri mereka sendiri satu dengan yang lainnya.

Keseluruhan poin seputar agama-agama adalah bahwasanya mereka layaknya banyak jalan yang membimbing menuju satu puncak dari satu puncak gunung, dimana mereka semua akan melebur ke dalam satu titik tunggal. Bila ini bisa diterima, akan ada rasa kekeluargaan dan persaudaraan di antara agama-agama di dunia. Akan tetapi ada suatu kecenderungan mengisolasikan diri, untuk menekankan bahwasanya masing-masing agama sebagai suatu presentasi lengkap dari realitas itu sendiri, yang juga merupakan tendensi untuk menolak pendekatan lainnya. Makanyalah terjadi kles dan pertikaian komunal yang menyeret pada bencana sosial dan politis. Banyaknya agama-agama di dunia bisa digambarkan seperti banyaknya berkas sinar matahari. Bila seberkas sinar berkompetisi dengan sinar lainnya, akan seperti apa jadinya?

Anda bukan saja harus mentolerir keabsahan dari pendekatan orang lain, namun juga harus menerima haknya atas upayanya itu. Hanya toleran dalam suatu artian rendah-diri tidaklah baik. Anda hendaknya tidak dengan berat-hati mentolerir titik-pandang seseorang.  Itu akan menempatkan Anda dalam posisi superioritas. Ada keabsahan di dalam pendekatan semuanya. Anda tidak bisa mengatakan bahwa seorang anak menggumamkan hal yang tak masuk-akal, nonsense, ketimbang memintanya untuk melakukan sesuatu yang benar-benar perlu buatnya di dalam kondisi pada mana ia berada pada suatu saat. Itu tidaklah berarti kalau seorang anak inferior ketimbang seorang jenius; pembandingan serupa ini sangat menjijikkan. Jangan pernah  membandingkan dan mengontraskan apapun. Terimalah segala sesuatu seperti apa adanya.

Larry: Swamiji, apa yang saya rasa sedemikian membingungkan adalah bisa menemukan orang-orang yang sedemikian cerdas dan bijaknya dalam agama saya sendiri dan agama lainnya, tetapi saya tidak….

Swamiji: Anda adalah salah seorang di antaranya.

Larry: Terimakasih Swamiji. Tetapi saya tak mengerti mengapa, misalnya, di dalam agama saya, agama yang saya kenal dengan paling baik, begitu banyaknya orang-orang yang merasa bahwa pendekatan merekalah pendekatan yang benar.

Swamiji: Itulah seluruh permasalahannya. Absensinya pikiran-terbuka, yang sebetulnya sangat dibutuhkan. Bagaimana seseorang akan bisa memanggil orang-orang sebagai “Putra-putri Tuhan”, jika ia tak punya pengertian apapun tentang yang lainnya?

Larry: Mereka punya—hingga batas-batas tertentu—pengertian bagi yang lainnya, tetapi karena mereka merasakan Musa menerima sabda-sabda itu langsung dari Tuhan, sabda-sabda ini secara mutlak kekal dan hanya satu-satunya—bagi seorang Yahudi—dari kehendak Tuhan. Dan pertanyaan saya adalah, mengapa bisa seperti itu jadinya?

Swamiji: Sikap seperti ini hadir dalam semua agama-agama Barat—katakanlah agama-agama Semitik. Tuhan yang transenden, yang merupakan konsepsi ketuhanan mereka, memotong dunia dari Tuhan dan mengkonversikan dunia ke dalam suatu goa jahat dari Setan, sehingga timbul pandangan, semakin cepat Anda menyingkir darinya, makin baik buat Anda. Itulah sebabnya muncul asetikisme ekstrim, monastikisme ekstrim, atau yang sejenisnya, dan sebentuk pengutukan-diri. Asetikisme seringkali bahkan —hingga batas-batas tertentu—disertai dengan pengutukan dan penyiksaan-diri, dimana eksistensi sejati dari seseorang dianggap sebagai suatu sosok jahat, suatu kejatuhan ke dalam alam aktivitas-ativitas iblis. Ini suatu hal yang sangat patut disayangkan untuk membayangkan sementara orang selamanya terkutuk, mengalami ‘kutukan abadi’. Bahkan di India-pun kami punya doktrin-doktrin theologis yang sejenis.

Bahkan di India inipun ada sementara konsep-konsep, di antara lingkaran-lingkaran theologis tertentu, yang secara menggelikan berpendapat bahwa, ada orang-orang tertentu layak bagi keselamatan abadi, sementara itu yang lainnya layak untuk api mensucian abadi, dan yang ketiga hanya bagi kutukan abadi. Kelihatannya sangat menjijikkan untuk berpegang pada pandangan-pandangan sejenis ini. Tuhan mereka menciptakan seseorang yang hanya layak buat ditempatkan di neraka , seseorang hanya layak untuk di surga, dan seseorang hanya layak untuk suatu siklus kehidupan yang naik-turun. Tuhan tidak menciptakan tiga seksi seperti itu. Ini merupakan suatu parodi pendekatan religius untuk berpikir bahwasanya Tuhan menciptakan sebuah dunia dosa dan kejahatan dan Ia berdiri di atasnya tanpa terkontaminasi, dan makanya jalan untuk keluar dari keterlibatan dalam kejahatan di dunia ini menjadi sebuah problema besar. Bila jiwa benar-benar sosok pendosa, ia tak akan pernah bisa ditebus, dan bila itu bisa ditebus, itu berarti tidak benar-benar seorang pendosa. Theologi seperti itu punya suatu ketidak-konsistenan internal. Mereka adalah agama-agama yang tidak mencukupi.

Anda tidak bisa mencintai Tuhan dengan membenci yang lainnya. Keseluruhan poin dari agama telah disalah-mengertikan. Cintai Tuhan dan bencilah dunia. Lalu mengapa tidak cintai dunia dan bencilah Tuhan? Walaupun ada beberapa yang cukup baik, ada juga orang-orang yang merasa demikian. Ada jenjang-jenjang pendekatan di dalam agama: pendekatan transendental, pendekatan mistikal, dan pendekatan universal,  pada mana semuanya harus merasakannya barang sehari atau lebih. Studi tentang perbandingan agama-agama adalah sangat baik dan perlu.

Dicuplik dan diterjemahkan dari kitab “The Problems of Spiritual Life”, karya Sri Swami Krishnananda Sarasvati, terbitan THE DIVINE LIFE SOCIETY tahun 1992, oleh Gung De.  

Published in: on 8 December 2006 at 4:10 pm  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://taksu.wordpress.com/2006/12/08/perlunya-studi-perbandingan-agama-agama/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: