Memaknai Galungan dan Kuningan

Oleh : I Made Murdiasa, S.Ag

GALUNGAN merupakan hari Pewedalan jagat, yang akan dirayakan pada hari Rabu keliwon wuku Dungulan, tepatnya pada tanggal 29 November 2006 ini, kita melakukan pemujaan pada Tuhan atas terciptanya Jagat dengan segala Isinya oleh Sang Hyang
Widhi. Persembahan dan pemujaan terhadap Sang Hyang widhi, dilakukan dengan hati yang tulus dan penuh kesucian, guna memohon kebahagiaan hidup dan agar dapat menjauhkan diri dari Awidya atau kegelapan. Sehari sebelum Galungan disebut
dengan Penampahan, maka mulai saat ini segala nafsu harus dihilangkan dari badan sebelum menyambut hari suci besoknya yaitu Galungan.

Manusia dilahirkan dalam keadaan Awidya atau kegelapan, yaitu sifat nafsu murka, irihati, congkak, angkara. Semua sifat ini disimbulkan sebagai Sang Kala Tiga, yang diberi gelar yaitu:

Pertama, Sang Bhuta Galungan yang berusaha menyerang dan menggoda kita pada hari Minggu atau Penyekeban.

Kedua, yaitu Sang Bhuta Dungulan, yang berusaha menyerang atau menggoda kita pada hari Senin atau Penyajaan.

Ketiga, adalah Sang Bhuta Amangkurat, yang berusaha menyerang kita pada hari Selasa atau hari Penampahan Galungan.

Dan kita juga berusaha lebih kuat lagi untuk mengalahkan godaan-godaan itu. Dan kesadaran umat akan kekuatan suci dibangun dengan “Abhayakala” yaitu melakukan upacara Penyucian diri dari kegelapan atau kala tiga itu. Yang bertujuan untuk membebaskan diri dari pengaruh-pengaruh Sang Kala Tiga. Dan untuk mengharmoniskan kesejahteraan bhuwana agung dan bhuwana alit.

Kita memohon pembersihan dan pensucian dari Hyang Widhi Melalui upacara. Dan upacara ini diakhiri dengan “ngayab dan natab”. yaitu menghaturkan dan memohon bersama-sama agar dilimpahkan karunia berupa keselamatan untuk semua anggota
keluarga, agar kemudian lebih dapat meningkatkan kesatuan pribadinya serta mampu menaklukkan dan menguasai segala macam godaan, baik yang datang dari luar maupun yang timbul dari dalam diri kita sendiri. Hal inilah yang disebut dengan kemenangan Dharma Melawan Adharma.

Tujuan hidup kita sebagai umat Hindu adalah untuk memperoleh kesejahteraan hidup di dunia dan kebahagiaan hidup di akhirat, dan tujuan hidup itu dalam ajaran agama Hindu direalisasikan melalui ajaran Catur Purusa Artha yaitu empat tujuan hidup manusia yang terdiri dari Dharma/Kebenaran, Artha/harta benda untuk mensejahterakan kehidupannya, kama/keinginan atau nafsu dan moksa yang merupakan tujuan akhir dari hidup manusia. Dengan demikian, tujuan hidup dalam ajaran agama Hindu dapat  kita klasifikasikan menjadi dua yaitu tujuan secara duniawi dan tujuan secara rohani.

Dalam hal ini keempat tujuan itu merupakan satu kesatuan dan selalu ditunjang oleh Dharma. Harta yang diperlukan untuk menunjang kehidupan, jika diperoleh tanpa berdasarkan dharma, maka harta itu tidak akan berarti, demikian juga halnya dengan kama, dan Dharma pulalah yang menjadi landasan hidup untuk mencapai moksa yang merupakan kemerdekaan atau kelepasan/terbebasnya manusia dari ikatan duniawi dan kelahiran kembali.

Terkait dengan tujuan hidup manusia dalam ajaran agama Hindu yaitu untuk mencapai kebebasan/kemerdekaan yaitu merdekanya roh dari samsara, maka dalam pelaksanaan hari raya Galungan dan kuningan yang mengandung makna kemerdekaan atau kelepasan.

Sedangkan untuk mencapai kemerdekaan, pada umumnya didahului oleh suatu pertempuran atau peperangan dan pertarungan. Ada dua mitologi yang dihubungkan dengan perayaan Galungan dan Kuningan sekaligus dengan peperangannya untuk mencapai kemenangan atau kemerdekaan. Kedua mitologi itu adalah peperangan antara raja Mayadanawa melawan Bhatara Indra dan pewarah-warah Bhatari Durga kepada Sri Jaya Kasunu. Dalam Lontar Jaya Kasunu diceritrakan bahwa sebelum pemerintahan raja Sri Jaya Kasunu, perayaan Galungan dan Kuningan pernah tidak dilaksanakan, oleh karena raja-raja pada jaman itu kurang memperhatikan upacara keagamaan. Hal tersebut dapat mengakibatkan kehidupan rakyat sangat menderita dan umur raja-raja sangat pendek-pendek. Kemudian setelah Sri Jaya Kasunu naik tahta dan juga setelah mendapatkan pewarah-warah dari Bhatari Durga atas permohonannya maka Galungan dan Kuningan kembali dirayakan dengan suatu ketetapan “tidak ada Galungan buwung” atau tidak ada Galungan batal.

Sejak itu mulailah kehidupan rakyat menjadi bahagia dan sejahtera serta mendapat umur panjang. Sedangkan pada versi ceritra lainnya, Galungan dihubungkan dengan kekalahan raja Mayadanawa oleh Bhatara Indra. Raja yang serakah, sombong dan
angkuh, yang tidak percaya akan kemahakuasaan Tuhan, yang menyuruh rakyatnya menyembah dirinya. Karena dirinya yang paling berkuasa dan diidentikkan dirinya dengan Tuhan yang berkuasa. Akhirnya peperanganpun terjadi, raja Mayadanawa tak berkutik oleh kekuatan dan kehebatan Bhatara Indra. Sehingga kemenangan Bhatara Indra atas peperangan itu yang dihubungkan dengan perayaan hari raya Galungan dan Kuningan. Dengan demikian Galungan dan Kuningan merupakan simbul hari kemenangan Dharma melawan Adharma. Karena itu pengendalian diri sangatlah kita perlukan. Kita sebagai umat sedharma, marilah kita tanamkan ajaran Tat Twam Asi dan sifat Asah Asih dan Asuh dalam diri masing-masing, sehingga tidak terjadinya perpecahan dikalangan umat sedharma.

Perang melawan musuh didalam diri sendiri sangatlah diutamakan. Musuh-musuh yang disebut seperti: sad ripu, sapta timira, catur mada, dan yang lainnya. Jika sifat-sifat seperti ini bila tidak dikendalikan akan menjadi sifat keraksasaan atau menjadi sifat Bhuta kala, yang berwujud merusak, mabuk, sombong, bengis, kejam, nafsu keangkara murkaan, keserakahan, pemarah, merasa diri memegang kekuasaan, merasa diri paling pintar, pandai atau berilmu, yang semestinya diarahkan atau
diabdikan pada pembentukan masyarakat Dharmika yang tata tentram kertha raharja dan sebagainya.

Demikianlah ulasan kami mengenai makna dari perayaan hari Raya Galungan dan Kuningan. Semoga dengan ulasan yang sedikit ini mampu mengingatkan
kembali kepada kita semua bahwa pengendalian diri itu sangat penting sekali dalam kehidupan ini. Bukan hanya dilakukan pada saat hari raya Galungan dan kuningan saja, tetapi dilakukan setiap hari untuk mendapatkan kemerdekaan/kebebasan dan
lepas dari keterikatan. Karena itu marilah kita bersama-sama menjaga kesucian diri kita, semoga kita semua dapat merayakan Galungan dan Kuningan dengan hati yang bersih, tenang dan damai. Dan tak lupa saya ucapkan selamat hari Raya Galungan tanggal 29 Nopember 2006 dan Kuningan tanggal 09 Desember 2006, semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa memberikan tuntunan dan kesadaran kepada kita semua.**

sumber: http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Hindu&id=128967

Published in: on 8 December 2006 at 5:59 pm  Comments (1)  

The URI to TrackBack this entry is: https://taksu.wordpress.com/2006/12/08/memaknai-galungan-dan-kuningan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentLeave a comment


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: