Tempat Suci

Sang Suyasa:
Sudah banyak yang Gurunda uraikan tentang hal-hal yang suci. Orang-orang suci atau Rsi-Rsi kita, sudah. Pustaka suci dan Hari Suci juga sudah. Adakah lagi yang patut hamba ketahui yang ada hubungannya dengan ketiga hal tadi?

Rsi Dharmakerti:
Memang ada anaknda, suatu hal yang tak boleh dilupakan dan merupakan tempat kita menghaturkan bakti yaitu: TEMPAT SUCI.


Tempat-tempat suci yang di dalam agama Hindu disebut Pura Kahyangan, Candi atau Mandir itu ada dua macam yaitu:
a. Pura tempat untuk memuja dan mengagungkan kebesaran Tuhan, Hyang Widhi Wasa dengan berbagai manifestasinya di sebut Pura Kahyangan.
b. Pura atau tempat suci untuk memuja roh leluhur yang sudah dipandang suci atau roh para Rsi yang dianggap telah menjadi dewa-dewa atau Bhatara Bhatari ini disebut Pura Dadya, Pura Kawitan atau Pura Pedharman.

Tujuan dan fungsi dari Pura sebagai tempat suci yang dibangun secara khusus menurut peraturan-peraturan yang telah ditentukan secara khusus pula ialah untuk menghubungkan diri dengan Sang Hyang Widhi serta prabhawanya untuk mendapatkan waranugraha. Juga pura itu merupakan tempat kegiatan-kegiatan sosial dan pendidikan dalam hubungan agama. Adapun Pura atau Kahyangan itu terdiri dari pada Pura/Kahyangan Tiga, Pura/Kahyangan Jagat.

Yang disebut Pura Kahyangan Tiga ialah pura tempat memuja Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Tri Wisesa, yaitu Pura Desa/Bale Agung untuk Brahma sebagai Pencipta, Pura Puseh atau Sagara untuk Wisnu sebagai Pemelihara dan Pura Dalem untuk Bhatari Durga (Sakti Siwa) sebagai manifestasi Hyang Widhi dalam fungsinya sebagai Pralina. Itulah sebabnya Pura Dalem terletak dekat kuburan sebagai simbul peleburan atau pralina. Dan setiap kuburan mempunyai tempat pemujaan dinamai Prajapati. Di samping Kahyangan-kahyangan itu ada juga tempat-tempat pemujaan yang berfungsi sosial ekonomis yaitu:

Pura Subak yang disebut Ulun Suwi dan Ulun Danu. Kahyangan ini khusus untuk memuja dan mengagungkan Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Sakti Wisnu (Dewi Sri), yaitu prabhawa Sang Hyang Widhi yang melindungi dan memberi kesejahteraan terhadap semua mahluk.

Sang Suyasa:
Gurunda, dengan uraian di atas baha ada juga Kahyangan yang berfungsi sosial ekonomis disamping untuk pemujaan yang bersifat spiritual saja sudah tercerminlah tujuan agama kita “Moksa artham jagadhita” itu, yaitu untuk mencapai moksa dan juga untuk kesejahteraan umat manusia.

Tetapi Gurunda, ada lagi golongan Kahyangan yang belum Gurunda terangkan. Kalau tidak salah, Kahyangan Jagat yang Gurunda sebutkan tadi.

Rsi Dharmakerti:
Benar anaknda, dan baik-baiklah mendengarkannya karena Kahyangan Jagat ini sangatlah penting maknanya. Yang disebut pura Kahyangan Jagat ialah pura-pura

Kahyangan Agung terutama yang terdapat di delapan penjuru mata angin dan pusat Pulau Bali yaitu:

1. Pura Lempuyang, tempat Hyang widhi dalam perwujudannya sebagai Iswara, di ujung Timur Pulau Bali
2. Pura Andakasa, tempat memuja Hyang Widhi dalam perwujudannya sebagai Brahma, terletak di selatan pulau Bali
3. Pura Batukaru, tempat memuja Hyang Widhi dalam perwujudananya sebagai Mahadewa, terletak di bagian barat pulau Bali
4. Pura Batur Ulun Danu, yang mempunyai fungsi sebagai pura Ulun Danu tempat memuja Hyang Widhi dalam perwujudannya sebagai Wisnu, terletak di utara pulau Bali.
5. Pura Goa Lawah, tempat memuja Hyang Widhi dalam perwujudannya sebagai Maheswara, terletak di tenggara pulau Bali
6. Pura Ulu Watu, tempat memuja Hyang Widhi dalam perwujudannya sebagai Rudra, terletak di barat daya pulau Bali
7. Pura Bukit Pangelengan yang disebut juga pura di Gunung Mangu, tempat memuja Hyang Widhi dalam perwujudannya sebagai Sangkara, terletak di barat laut pulau Bali.
8. Pura Besakih, tempat memuja Hyang Widhi di dalam perwujudannya sebagai Sambhu, terletak di timut laut pulau Bali. Di samping merupakan Pura Kahyangan Jagat tempat Sambhu Pura BEsakih juga merupakan pura suci pusat dari semua pura Kahyangan Agung Penyungsungan Jagat di Bali.

Kalau dihitung maka semua Kahyangan Agung penyungsungan jagat di Bali ini berjumlah sembilan buah yang terletak di kedelapan penjuru mata angin pulau Bali, di mana BEsakih menjadi tempat dua Kahyangan Agung yaitu tempat Sambhu dan juga merupakan tempat Siwa. Dari sembilan Pura tadi di ambil tiga Pura Kahyangan yaitu:

a. Pura Batur Ulun Danu sebagai tempat memuja Wisnu
b. Andakasa, sebagai tempat memuja Brahma dan
c. BEsakih sebagai pusat Kahyangan Agung tempat memuja Siwa, yaitu yang merupakan pelinggih-pelinggih atau tempat pemujaan Trimurti.

“Sad” berarti enam dan Kahyangan berarti pura pelinggih untuk memuja Hyang Widhi.

Sad Kahyangan ialah Kahyangan-Kahyangan Agung penyungsungan jagat yang jumlahnya enam yang terletak di penjuru-penjuru mata angin pulau Bali. Yang terletak di:

a. timur – Lempuyang, tempat Iswara
b. tenggara – Goa Lawah, tempat Maheswara
c. barat daya – Ulu Watu, tempat Rudra
d. barat – Watukaru, tempat Mahadewa
e. barat laut – Bukit Pangelengan atau Gunung Mangu, tempat Sangkara
f. timur laut – Besakih, tempat Sambhu (bukan Besakih pusat tempat Siwa)

Adapun fungsi dari Kahyangan-Kahyangan Agung penyungsungan jagat yang terletak di seluruh penjuru mata angin pulau Bali itu ialah sebagai perlambang untuk menjaga keseimbangan alam semesta. Semua para Dewa atau Bhatara-Bhatara yang distanakan atau disemayamkan di pelinggih-pelinggih atau pura Kahyangan Agung itu adalah personifikasi atau perwujudan dari kemahakuasaan Sang Hyang Widhi (Siwa) yang delapan jumlahnya (asthaiswarya) yang disimbulkan dengan dewa-dewa atau bhatara-bhatara yang bersemayam di kedelapan penjuru mata angin, sehingga digambarkan sebagai bunga padma – asta – dala atau teratai berdaun bunga delapan.

Sang Suyasa:
Tetapi Gurunda, di Bali sendiri hamba lihat penuh dengan Kahyangan-Kahyangan, malah dikatakan pulau Bali itu “Pulau ribuan Kahyangan”. Hamba mengerti yang kelihatan banyak itu ialah Kahyangan-Kahyangan Tiga yang terdapat di setiap desa. Tetapi ada lagi Kahyangan-Kahyangan yang besar yang lainnya Gurunda.

Rsi Dharmakerti:
Betul sekali apa yang anaknda katakan.

Apa yang Guru uraikan merupakan dasar-dasarnya saja. Ada juga Kahyangan-Kahyangan lain yang sama mendapat perhatian dengan Kahyangan-Kahyangan Agung itu yang mempunyai fungsi istimewa misalnya sebagai pura Pulaki, di bagian barat laut pulau Bali, Pura MAsceti yang terletak di pantai selatan Gianyar, Sakenan di pulau Serangan Daerah Badung, Tanah Lot di pantai Tabanan dan banyak lagi pura-pura lainya. Ketahuilah anakku bahwa Kahyangan-Kahyangan serta tempat-tempat suci ini tidak hanya terdapat di Bali saja. Ia tersebar di seluruh pelosok tanah air di mana saja agama Hindu dianut dari jaman dahulu.

Sang Suyasa:
Sekarang hamba mengerti, Gurunda, karena betul-betul kemahakuasaan Sang Hyang Widhi itu tidak terbatas, sehingga fungsi-fungsinya pun tidak terbatas pula.

Bagaimana tentang pura keluarga?

Rsi Dharmakerti:
Ketahuilah anakku, bahwa pura keluarga inipun ada bermacam-macam. Hanya yang pokok yang Guru akan uraikan.Adapun pura tempat pemujaan roh-roh leluhur yang dianggap telah suci dan roh-roh para Rsi yang telah dipandang sebagai Dewa atau Bhatara-Bhatari dinamai Sanggah, Merajan dan Paibon.

Pura ini disebut juga Pura Dadya atau “Pura Sangkaning Dadi” yang artinya pura mula perjelmaan dan sering juga pura ini disebut pura KAwitan yang khusus untuk keluarga. Untuk mengenang jasa pahlawan-pahlawan dibuatkan pelinggih-pelinggih yang disebut Pedharman.

Sang Suyasa:
Gurunda, ada pula hamba lihat Kahyangan yang hanya mempunyai Padmasana sebagai Pura Agung Jagatnatha di Denpasar. Apakah arti Padmasana itu?

Rsi Dharmakerti:
Padamasana artinya persemayaman suci bagi Sang Hyang Widhi. “PAdma” berarti teratai, “asana” berarti tempat bersemayam atau tempat duduk.

Padmasana itu adalah lambang kemahakuasaan Sang Hyang widhi yang dibuat berbentuk tempat bersemayam yang menjulang tinggi yaitu simbul dari gunung Mahameru atau gunung Mandara yang merupakan sadhana terdapatnya Amrta (air suci kehidupan). Mengenai pemutaran gunung Mandara ini dapat diketahui dari buku Adi Parwa di mana Dewa dan Raksasa untuk mendapat air suci Amrta memutar gunung Mandara di lautan susu dengan beralaskan Kurmaraja atau Badawang (Awatara Wisnu) serta diikat dengan naga Anantabhoga (kemakmuran tak berakhir).

Pemutaran Gunung Mandara atau Padmasana ini merupakan contoh perjuangan hidup manusia untuk mencapai kebebasan abadi dengan jalan dharma serta memakai artha dan kama sebagai alatnya.

Jadi fungsi Padmasana ialah untuk memuja Hyang Widhi dengan mengenangkan perjuangan hidup dengan kebebasan abadi (moksa), sebagai tujuan hidup, dharma (kebenaran) merupakan landasan serta artha dan kama sebagai alat.

Published in: on 23 July 2009 at 5:55 pm  Leave a Comment  
Tags: ,

The URI to TrackBack this entry is: http://taksu.wordpress.com/2009/07/23/tempat-suci/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: